Sunday, December 19, 2010

Kristus - Pusat Perayaan Natal


Oleh: John Adisubrata

“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. ...” (Matius 2:11a)

Di akhir zaman ini makna Natal sangat membingungkan mereka yang ikut merayakannya, baik orang-orang Kristen maupun tidak. Kebiasaan-kebiasaan yang dihalalkan masyarakat oleh karena tradisi turun-temurun, baik di dalam maupun di luar gereja, sudah menyelewengkan pengertian makna yang sebenarnya. Sebagai orang-orang beriman tentu kita sependapat, bahwa masa perayaan Natal adalah masa yang diadakan untuk memperingati kelahiran Kristus di kota Bethlehem 2000 tahun yang lalu. Kendatipun tanggal yang ditentukan bukan tanggal kelahiran Yesus yang sesungguhnya, kebanyakan orang kristiani mengakui, bahwa itu hanya merupakan sebuah simbol saja yang mewakili hari tersebut.

Natal adalah saat terpenting yang mengawali penggenapan seluruh rancangan Allah untuk menyelamatkan hidup umat manusia. Tanpa kehadiran Kristus di dunia, rencana tersebut tidak akan pernah terlaksana!

Karena itu, Yesus-lah yang harus menjadi fokus utama mengapa kita merayakannya. Bukan tokoh fiksi Santa Claus, untuk menggembirakan hati anak-anak kecil. Bukan sekedar saling memberi kado, untuk mengesankan hati sesama atau sanak saudara. Bukan sekali setahun merasa wajib (atau terpaksa) untuk pergi beribadah ke gereja. Bukan juga mengadakan pesta makan malam sekeluarga, untuk mengkompensasi waktu-waktu yang hilang gara-gara kesibukan masing-masing sepanjang tahun. Bukan mementingkan pergi bertamasya saat liburan (Natal dan Tahun Baru), untuk memanjakan diri sendiri setelah bekerja keras di tahun itu.

Perhatikanlah kisah hidup Tuhan Yesus Kristus yang penuh dengan makna menakjubkan, yang dicatat di dalam firman Tuhan, mulai dari hari di mana kita setiap tahun memperingati dan merayakannya untuk mengucapkan rasa syukur dan terimakasih atas kesediaan-Nya untuk meninggalkan segala kemuliaan sorgawi, hanya untuk menyelamatkan hidup kita saja!

Ia dilahirkan dalam lingkungan yang paling sederhana, namun langit cerah di malam itu dikumandangi oleh lagu-lagu pujian para malaikat sorgawi. (Lukas 2:14) Tempatnya hanya kandang ternak biasa saja, namun sebuah bintang yang bersinar cemerlang di atasnya membawa tiga bangsawan kaya dari negara-negara Timur untuk datang menyembah Dia. (Matius 2:11)

Proses kelahiran-Nya bertentangan dengan hukum alam (Yohanes 1:1-18), begitu pula cara kematian-Nya (Lukas 23:33-49). Namun di samping kebangkitan-Nya (Matius 28:1-10), tidak pernah ada keajaiban-keajaiban lain yang lebih dahsyat dari pada kedua peristiwa itu. Ajaran-ajaran yang Ia berikan pada masa pelayanan-Nya yang singkat di dunia juga dipenuhi oleh mujizat-mujizat yang menakjubkan. Tidak pernah Ia mengusahakan ladang atau industri perikanan, namun Ia mampu menjamu dan mengenyangkan perut lebih dari 5000 orang dengan roti dan ikan yang berkelimpahan. (Markus 6:30-44)

Permadani-permadani tebal yang empuk dan mewah tidak pernah menjadi alas di mana Ia berdiri, namun permukaan air danau yang lembut disertai ombak-ombak sebesar gunung pernah mengalasi jejak-jejak kedua kaki-Nya. (Yohanes 6:19)

Cara penyaliban-Nya dicatat sejarah sebagai hukuman mati yang terkejam sepanjang masa (Yohanes 19), karena bagi Tuhan tidak ada hukuman lain, sebagai korban yang sepadan, yang bisa menebus dosa-dosa umat manusia. Pada saat kematian-Nya hanya sekelompok kecil saja orang-orang yang berdukacita, namun langit kelam yang dipenuhi oleh gulungan-gulungan awan hitam mencurahkan hujan lebat ke atas bumi, ... melukiskan kepedihan hati-Nya. (Lukas 23:44-45)

Orang-orang yang menyalibkan Dia tidak gemetar (Markus 15:16-20a), namun bumi di mana mereka berdiri digoncangkan oleh gempa dahsyat yang menyebabkan tabir Bait Suci terbelah menjadi dua. (Matius 27:51)

Dosa tidak pernah menjamah diri-Nya (Lukas 4:1-13), sehingga tanah yang menjadi merah oleh karena curahan darah-Nya tidak bisa menuntut tubuh-Nya. (Markus 16:6)

Lebih dari tiga tahun lamanya Ia mengabarkan Injil di antara bangsa-Nya. Tidak pernah Ia menulis buku. Tidak pernah Ia mendirikan sebuah organisasi. Tidak pernah Ia membangun markas-markas besar untuk para pengikut-Nya. Namun ... 2000 tahun kemudian, selain tahun kelahiran-Nya dipergunakan sebagai poros untuk mengukur waktu, nama-Nya tetap dicatat sebagai tokoh terpenting di dalam sejarah kehidupan manusia. Bahkan dengan berlalunya waktu jumlah para pengikut-Nya juga terus meningkat berlipat-lipat ganda, tersebar di seluruh penjuru bumi.

Ajaran-ajaran dan kisah hidup-Nya merupakan tema menarik yang tak henti-hentinya dijadikan bahan percakapan, artikel, renungan dan khotbah orang-orang/hamba-hamba Tuhan. Sampai saat ini Ia dikenal oleh masyarakat dunia sebagai satu-satunya Penebus dosa umat manusia yang turun dari sorga. (Yohanes 14:6, Kolose 1:14) Tidak ada pelopor/pendiri agama-agama lainnya yang berani memberikan pernyataan seperti itu.

Biarlah kita selalu mengingat, bahwa Kristus-lah pusat perayaan Natal tahun ini, dan bukan kegiatan-kegiatan lain yang tampak menarik, yang dengan mudah bisa memindahkan fokus dari tujuan kita yang sebenarnya itu, yaitu untuk menggabungkan diri dengan ketiga orang Majus tersebut, ... pergi mencari-Nya, “... lalu sujud menyembah Dia.” (Matius 2:11)! Haleluya!

Terpujilah nama Tuhan sampai selama-lamanya! Amin.

John Adisubrata
Desember 2010

Thursday, December 9, 2010

Selamat Berpisah, Darlene Zschech


Oleh: John Adisubrata

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. ... ada waktu untuk menanam, ... ada waktu untuk membangun; ... .” (Pengkhotbah 3:1-3)

Apabila saya mendengar atau membaca kata Hillsong di manapun saja, kata lain yang segera terbersit di dalam ingatan saya adalah nama Darlene Zschech, pencipta lagu termashyur Shout to the Lord, yang sekarang sudah dijuluki sebagai ‘lagu kebangsaan Kristen’ masakini. Memang ada banyak nama-nama orang atau judul-judul lagu lainnya yang juga bisa langsung diasosiasikan dengan kata itu, namun jelas bagi kebanyakan orang, nama wanita pemimpin praise and worship yang terkenal di dunia inilah nama pertama yang selalu muncul di dalam benak pikiran mereka.

Darlene yang juga sudah menciptakan lagu-lagu kristiani lainnya, seperti: I Will Run to You, All Things are Possible, Glory to the King, The Potter’s Hand, And That My Soul Knows Very Well, Worthy is the Lamb dan lain sebagainya, diakui sebagai salah seorang penggubah lagu-lagu puji dan sembah modern, di samping Reuben Morgan dan Geoff Bullock, yang telah berhasil membuat nama Hillsong Church di kota Sydney, Australia menjadi termashyur di dunia.

Namanya yang sukar sekali untuk dieja, tetapi oleh karena keunikan pelafalannya, menjadi nama yang mudah diingat, adalah nama artis kristiani pertama yang saya ketahui. Saya mendengar suaranya untuk pertama kali tahun 1997 di dalam sebuah toko buku Kristen di kota Brisbane, Australia, saat istirahat makan siang. Ketika memasukinya mereka sedang memutar lagu-lagu penyembahan syahdu dari album Hillsong: ‘Simply Worship’. Saya tertegun sekali kala mendengar suaranya yang amat merdu, mendendangkan irama lagu-lagu catchy yang amat khas. Pada waktu lagu ‘Show Me the Way’ dikumandangkan melalui loudspeakers toko tersebut, saya memberanikan diri untuk menanyakannya. Itulah saat di mana saya mendengar nama Darlene Zschech dan Hillsong Church untuk pertama kalinya.

Tak pernah terbayang, bahwa akhirnya kami sekeluarga menjadi anggota sebuah gereja, di mana Darlene dibesarkan dan mengalami kelahiran barunya. Harus saya akui, bahwa setelah bertemu dengan dia pada suatu kesempatan secara pribadi, saya merasa kagum sekali akan talenta, sikap hidup, bahkan kelembutan dan kerendahan hatinya. (Baca: Tribute: Darlin’ Darlene) Yang lebih mengesankan lagi, setahun yang lalu gereja kami yang dulunya bernama ‘Garden City Christian Church’ tersebut dinyatakan sebagai Gereja Hillsong yang keempat di Australia, Kampus Brisbane. (Baca: Hillsong Brisbane)

Baru-baru ini melalui sebuah dokumentasi TV, Marty Sampson menceriterakan suatu peristiwa yang terjadi pada saat para artis dan pemusik Hillsong sedang berkumpul bersama-sama. Ketika salah seorang di antara mereka bertanya, ... siapakah yang mempunyai hubungan paling dekat dengan Tuhan, secara bercanda Darlene menjawab: “Aku!” Marty tertawa mendengarnya. Tetapi kemudian setelah terhening sejenak, dengan menatap lensa kamera dalam-dalam, ia mengakui dengan jujur: “Jika aku pertimbangkan lagi secara fakta, sekalipun ia hanya bergurau saja, apa yang dikatakan olehnya itu tepat sekali. Buktinya, tidak ada seorangpun di antara kami yang bisa membawa jemaat (gereja) menghadap Tuhan melalui puji dan sembah dengan pengaruh sebesar Darlene.” Saya mengaminkan pendapatnya!

Terus terang saja, saya selalu menjadi bergairah sekali, setiap kali mendengar ia diutus gereja pusat untuk datang melayani di kampus kami. Dari banyak pilihan artis-artis lain yang dijadwal untuk datang ke Hillsong Brisbane, hanya Darlene seorang saja yang membuat saya tidak bisa menunggu saat tibanya akhir pekan. Saya yakin, nostalgia masa kelahiran baru saya hampir 14 tahun yang lalu, yang menyebabkan saya memasuki pintu toko buku Kristen di mana untuk pertama kalinya saya mendengar suaranya yang indah dan penuh urapan, memegang peranan penting sekali mengapa saya mempunyai sikap seperti itu.

Tetapi pada acara kebaktian Jum’at malam di akhir November 2010 yang baru lalu, saya dikejutkan oleh berita yang diumumkan di gereja, bahwa ... setelah menjadi anggota Hillsong Church selama 25 tahun, Darlene dan suaminya, Mark Zschech, akan mengundurkan diri bulan Januari 2011 dari pelayanan mereka di sana, untuk mengambil alih dan memimpin sebuah gereja Pantekosta bernama Church Unlimited di Australia’s Central Coast, sebuah suburb tidak jauh dari tempat di mana gereja besar itu berada.

Dengan penuh iman Mark menyatakan, bahwa mereka berdua sedang memasuki suatu era baru yang indah dan subur. Menurut dia, akhir-akhir ini Tuhan sudah menanamkan dua buah kata di dalam hati mereka berdua: lead (memimpin) dan build (membangun). Oleh karena itu, sesuai panggilan-Nya, mereka ingin membangun gereja tersebut untuk semua orang.

Bertentangan dengan kabar simpang-siur disertai tuduhan-tuduhan negatif yang menguasai berbagai macam media semenjak berita itu diumumkan, gembala sidang Hillsong Church, Ps Brian Houston, menyikapi pengunduran diri mereka dengan positif sekali. Bahkan ia memberkati ketaatan mereka untuk menuruti kehendak dan tuntunan Roh Kudus. Ia mengakui, bahwa kesetiaan pelayanan Mark dan Darlene di sana memegang peranan amat penting di dalam pertumbuhan Gereja Hillsong dari sebuah gereja local kecil yang awalnya tidak dikenal oleh masyarakat Australia, menjadi sebuah megachurch yang termashyur sekali di seluruh dunia. Saat ini hampir tidak ada orang-orang kristiani yang tidak pernah mendengar nama mereka!

Saat mengumumkannya kepada jemaat pusat Gereja Hillsong di kota Sydney, Ps Brian Houston berkata: “Keluarga Zschech adalah salah satu bagian terpenting yang sudah melengkapi kehidupan gereja kita seperempat abad lamanya. Dan sekalipun kita akan merasa sangat kehilangan, kita tahu, keputusan mereka itu adalah keputusan disertai langkah iman yang baik, dalam waktu yang tepat, untuk melengkapi perkembangan pelayanan mereka.” Ia juga menambahkan, bahwa sekalipun keluarga Zschech bukan anggota Gereja Hillsong lagi, mereka akan tetap ikut mengambil bagian di dalam proyek-proyek praise and worship mendatang, termasuk live albums dan Hillsong conferences.

Mark dan Darlene akan memulai tugas mereka sebagai gembala-gembala sidang Church Unlimited pada tanggal 23 Januari 2011.

Jelas sekali, seperti pendapat banyak anggota Gereja Hillsong lainnya di setiap kampus di Australia yang mengasihi dia, saya juga pasti akan merasa sangat kehilangan Darlene Zschech tahun depan. Kendatipun demikian, saya berdoa agar ia dan suaminya bisa terus dipakai oleh Tuhan, bahkan dengan lebih dahsyat lagi! Karena saya setuju, seperti pernyataan yang pernah diutarakan oleh Marty Sampson di dalam dokumentasi TV yang saya singgung sebelumnya, ... Darlene memang mempunyai hubungan yang amat dekat dengan Tuhan!

Selamat berpisah, Darlene. Selamat jalan! Biarlah Tuhan memberkati pelayan kalian berdua selalu, untuk mempersiapkan kedatangan Raja di atas segala raja, Sang Penebus, Tuhan Yesus Kristus!

Terpujilah nama-Nya untuk selama-lamanya. Haleluya. Amin!

John Adisubrata
Desember 2010