Friday, October 28, 2011

Hidup yang ‘Diberkati’ (2)


Oleh: John Adisubrata

INJIL KEMAKMURAN

Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38)

Ipar saya pernah menceriterakan percakapannya dengan seorang teman di tahun 80-an, yang ingin mempengaruhi dia untuk menggabungkan diri dengan sebuah gereja besar baru di kotanya. Berapi-api ia menceriterakan, bahwa semenjak ia menjadi anggota gereja itu, hidupnya menjadi sangat diberkati. Menurut dia, ‘iman’-nya yang besar menyebabkan semua yang diinginkan olehnya selalu dikabulkan oleh Tuhan. Ia berkata penuh keyakinan: “Enak ikut gereja itu, hidup kita akan selalu diberkati. Apakah engkau tahu, jika kita menumpangkan tangan di atas sebuah mobil Mercedes baru yang mewah di dalam nama Yesus, lalu percaya bahwa dengan iman kita akan memilikinya, Tuhan pasti mengabulkannya. Coba periksa, buktinya ada di dalam alkitab.”

Saya setuju sekali dengan tanggapan jitu kakak ipar saya pada waktu itu: “Kok seperti tidak ada bedanya dengan pergi melawat ke gunung Kawi* saja.”

Tentu yang dimaksudkan oleh temannya adalah ayat-ayat yang diucapkan oleh Kristus, yang tercatat di dalam keempat Injil Perjanjian Baru, seperti yang diceriterakan kembali oleh Matius: “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22) Atau ayat yang ditulis oleh Markus di dalam Injilnya: ‘Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya! (Markus 9:23)

Dan yang paling sering dipakai sebagai landasan argumentasi mengapa orang-orang kristiani seperti dia menyetujui ajaran Injil Kemakmuran: ‘Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” (Matius 9:29)

Apakah benar ayat-ayat tersebut mempunyai makna seperti yang ditafsirkan olehnya? Apakah seluruh keinginan orang-orang percaya yang diucapkan (diperintahkan!) dengan iman di dalam nama Yesus, juga pasti akan dikabulkan oleh Tuhan, seperti … harta kekayaan, kesehatan tubuh, kesembuhan dari penyakit, kebahagiaan hidup, dan lain-lainnya? Apakah benar, semua itu pasti akan terjadi sesuai dengan iman kita?

Pengertian kata berkat berdasarkan iman semacam itu memang sudah beredar di mana-mana, dan sudah di-‘iman’-i oleh para pengikut aliran-aliran ‘kristiani’ tertentu sebagai kebenaran yang mutlak. Kekayaan materiil atau kesuksesan finansiil, baik keluarga maupun bisnis, adalah tema-tema utama ajaran-ajaran gembala-gembala mereka. Penuh keyakinan mereka percaya, bahwa dengan iman berkat-berkat tersebut bisa dicapai oleh semua orang-orang Kristen, apabila mereka taat pada firman Tuhan.

Terus terang saja, siapakah yang tidak ingin menjadi kaya raya dan diberkati? Saya yakin semua orang mau, ... termasuk saya! Tetapi ajaran-ajaran seperti itu seolah-olah memantau orang-orang percaya agar mereka menjadi tamak dan materialistis, yang memandang agama Kristen sebagai sumber bisnis yang bisa menguntungkan diri sendiri. Bahkan Tuhan diperlakukan seperti ‘jin dalam botol’ yang baik hati, yang mau menuruti segala ‘permintaan’ (perintah-perintah!) mereka. Seakan-akan sebagai ganti ketaatan, kesetiaan dan perbuatan-perbuatan baik yang sudah mereka lakukan, Tuhan bisa dimanipulasi dengan seenaknya.

Mereka memandang Roh Kudus sebagai kuasa yang dapat diperalat setiap waktu oleh orang-orang percaya. Padahal apabila kita menyelidikinya dengan lebih cermat lagi, alkitab sebenarnya mengajarkan kebalikannya: Roh Kudus-lah yang memampukan umat-Nya, sehingga mereka bisa melaksanakan kehendak-kehendak Tuhan.

Sekalipun tidak semua, banyak dari televangelists (penginjil-penginjil melalui televisi) yang termasyhur di dunia bertanggung jawab atas kepesatan meluasnya pengertian yang tidak alkitabiah tersebut. Kebanyakan mereka adalah penginjil-penginjil yang berasal dari Amerika Serikat. Saya sering menyaksikan mereka di TV memaksakan pandangan mereka menggunakan pengertian iman yang dicomot ke luar secara sembarangan sekali dari dalam alkitab.

Biasanya motto iman mereka bisa diterjemahkan seperti ini: percaya kepada iman, atau: percaya, karena beriman pada iman! Sekalipun mereka berkata, bahwa mereka adalah hamba-hamba Kristus, jelas motto yang tidak alkitabiah itu menunjukkan, bahwa mereka mengandalkan iman yang percaya pada ‘keampuhan’ iman kristiani mereka sendiri. Dan bukan bersandar 100% pada kebesaran Tuhan dan kebenaran firman-Nya!

Salah satu contoh mengenai ayat-ayat yang paling dikenal orang-orang kristiani, yang sering secara sembarangan dicomot begitu saja dan dipakai di luar pengertian message yang sebenarnya, adalah ayat yang dicatat di dalam Injil Lukas: Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38)

Sering kali saya mendengar ayat tersebut dipergunakan oleh hamba-hamba Tuhan pada saat-saat kolekte atau pengumpulan dana di gereja-gereja (atau melalui acara-acara TV kristiani), sebagai cara untuk memberi semangat atau menantang iman anggota jemaat (atau para pemirsa di rumah) agar mereka meningkatkan jumlah uang persembahan, bahkan ... perpuluhan mereka. Tidak jarang terdengar seolah-olah memantau ketamakan hati manusia, karena menjanjikan berkat berlipat-lipat ganda yang akan dikaruniakan oleh Tuhan sebagai ‘upah’ atas ‘ketaatan’ mereka terhadap firman-Nya!

Padahal ketika Tuhan Yesus mengajarkannya, Ia bukan membahas hal ‘memberi’, melainkan hal ‘menghakimi’ (Lukas 6:37-42). Perhatikanlah ayat 37 yang mengawalinya: “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” Dari ayat 37 sampai 42, Ia sebenarnya memperbincangkan tingkah laku umat manusia yang selalu condong untuk membabi buta menghakimi orang-orang lain tanpa bisa melihat kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa mereka sendiri.

Ia memperingatkan, bahwa ukuran yang mereka pergunakan untuk menghakimi sesamanya akan diukurkan kembali kepada mereka, bahkan akan ditambahkan secara berlimpah-limpah.

Jadi pada waktu itu Yesus bukan berbicara mengenai ‘berkat’ (harta kekayaan) yang akan kita terima, jika kita memberikan persembahan atau sumbangan kepada hamba-hamba Tuhan serta pelayanan-pelayanan mereka, melainkan ‘pembalasan’ (besar) yang pasti akan terjadi di luar pengharapan kita, jika kita masih berani menghakimi sesama kita!

Saya yakin, semua orang kristiani yang sudah lahir baru pernah mendengar Lukas 6:38, dan juga ayat-ayat lainnya yang sering dicomot ke luar begitu saja dari makna konteks yang sebenarnya, dipergunakan oleh hamba-hamba Tuhan di gereja atau melalui acara-acara TV kristiani sebagai ayat penghimbau untuk mengumpulkan uang kolekte, atau sumbangan dana guna mendukung program-program mereka di bidang pembangunan, misi, Pekabaran Injil dan lain sebagainya.

Sekalipun tidak jarang ada ayat-ayat tertentu yang dipakai oleh Tuhan sebagai ‘firman’ (rhema) untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada kita secara pribadi, makna firman tersebut pasti tidak akan bertentangan dengan dasar ajaran-ajaran-Nya yang lain. Tidak mungkin Yesus merestui sikap orang-orang yang ingin mendukung pekerjaan Tuhan, tetapi belum apa-apa sudah menuntut pahala-pahala mereka berdasarkan keserakahan dan egoisme, hanya oleh karena mereka ingin menjadi kaya, atau lebih gawat lagi: … mau memperkaya diri sendiri! Karena terbukti melalui ayat-ayat alkitab lainnya jelas dinyatakan, bahwa Ia menentang dan membenci ketamakan hati manusia.

‘Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Lukas 12:15)

* Gunung Kawi dikenal di Jawa Timur sebagai sebuah gunung keramat, yang didiami oleh roh-roh yang ‘bermurah hati’. Biasanya orang-orang yang menginginkan kekayaan dan kesuksesan hidup pergi melawat ke sana dengan harapan bisa mendapatkan ‘berkat’ itu dari mereka.

(Bersambung)

HIDUP YANG ‘DIBERKATI’ (3)

MAKMUR ‘MELAYANI’

Friday, October 21, 2011

Hidup yang ‘Diberkati’ (1)


Oleh: John Adisubrata

BERKAT-BERKAT DUNIAWI

Berkat TUHAN-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Amsal 10:22)

Suatu malam di hari Jum’at kurang-lebih dua/tiga tahun yang lalu, setelah membahas bersama isi firman Tuhan, sebagai penutup acara sel, pemimpin kami menantang beberapa pengunjung yang sudah sering datang, tetapi masih belum menjadi pengikut Kristus untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Seperti biasa, dengan dukungan doa, dan juga dukungan moril para anggota sel yang hadir lainnya, ia berusaha untuk meyakinkan ketiga orang tersebut.

Sebenarnya itu bukan kesempatan yang pertama. Pernah sekali beberapa minggu sebelumnya, saat ditantang, seorang di antaranya nyaris diselamatkan. Sayang sekali, oleh karena masih merasa gentar untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan hidup yang lama, ia menolak tawaran tersebut. Padahal dengan jujur ia mengakui, bahwa saat itu ada ‘sesuatu’ yang terjadi di dalam dirinya, yang menyebabkan isi hatinya bergejolak secara mengherankan. Tentu saja karena pernah mengalaminya sendiri, kami menyadari, bahwa itu adalah pekerjaan Roh Kudus!

Berbeda dengan kegagalan-kegagalan seperti itu, yang biasanya selalu disebabkan oleh karena persepsi masyarakat yang keliru, yaitu bahwa orang-orang kristiani hidupnya terkekang dan tidak bebas, malam itu gara-gara sebuah pertanyaan yang diajukan oleh pemimpin sel kami, saat ditantang salah seorang di antara mereka merasa tersinggung sekali dan menjadi marah.

Di antara beberapa pernyataan mengenai Kristus dan apa yang telah dilakukan oleh-Nya untuk umat yang mau percaya kepada-Nya, ia menambahkan sebuah pertanyaan: “Apakah kalian tidak ingin menjadi orang-orang yang hidupnya diberkati?”

Kami yakin pertanyaan itu cukup beralasan dan diajukan tanpa maksud untuk menyinggung perasaan siapa pun juga. Tetapi oleh karena kata ‘berkat’ mempunyai arti yang berbeda-beda bagi telinga setiap orang yang mendengarnya, baik orang-orang Kristen maupun bukan, langsung saja wanita yang sudah sering hadir di sana bersama suaminya oleh karena undangan sahabat-sahabat mereka yang adalah anggota-anggota sel kami, menjawab dengan nada kurang senang sekali: “Siapa bilang aku tidak diberkati? Hidupku sangat diberkati!”

Kata berkat memang mempunyai makna yang sangat luas, terutama jika diartikan di dalam bahasa Inggris sesuai penggunaannya, seperti: bless, blessed atau blessing. Di antara berberapa arti-arti yang lain, Dictionary.com menjelaskan kata ‘blessing’ seperti ini: “A favor or gift bestowed by God, thereby bringing happiness.” Terjemahan bebasnya adalah: Kemurahan atau hadiah yang dilimpahkan oleh Tuhan, yang membawa kebahagiaan.”

Berkat mempunyai hubungan yang erat sekali dengan kasih Tuhan, kasih karunia-Nya, serta kemurahan hati-Nya. Karena sebenarnya berkat selalu berasal dari sorga! Menurut firman Tuhan, hikmat-lah yang mengawalinya! Tanpa hikmat, pengetahuan akan keberadaan Tuhan serta firman-Nya tidak ada pada kita. Tanpa pengetahuan itu, kita tidak akan merasa takut terhadap kebesaran dan kuasa-Nya. Tanpa rasa takut itu, kita akan merasa enggan untuk mempelajari firman-Nya. Akibatnya, kita tidak tahu tujuan hidup kita di dunia, sehingga kita tidak mampu untuk melihat dan menikmati ‘berkat-berkat’ yang membawa kebahagiaan, yang dicurahkan oleh-Nya kepada kita.

Raja Salomo membahas hal tersebut dengan jelas sekali melalui berpuluh-puluh ayat di dalam kitab Amsal dengan memulainya menggunakan ayat yang amat penting ini: Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” (Amsal 1:7)

Sedangkan menurut pandangan umum (masyarakat pada umumnya), berkat selalu dikaitkan dengan harta kekayaan manusia. Semakin berada keadaan seseorang, semakin besar berkat yang dipunyainya. Tentu saja kekayaan juga termasuk di dalam anugerah-anugerah berkat yang Tuhan berikan kepada umat kristiani, tetapi itu hanya sebagian kecil saja di antara banyak sekali berkat-berkat lainnya.

Suami wanita itu, seorang yang amat berbakat di bidang seni musik, adalah penyebab utama mengapa ia ikut hadir di sana hampir setiap hari Jum’at malam. Ia ingin membantu selgrup kami dengan bermain instrumen mengiringi kami saat puji dan sembah. Sekalipun mereka adalah (mantan) orang-orang beragama Budha yang kami simpulkan sekarang sudah menjadi simpatisan-simpatisan kelogisan pandangan hidup ‘agama’ populer masakini, The New Age Movement, tampak sekali bahwa mereka mempunyai pandangan yang amat luas mengenai kepercayaan-kepercayaan lainnya di dunia, termasuk ajaran-ajaran Kristus.

Jelas sekali malam itu, sebagai seorang intelektuil yang tidak kekurangan apa-apa, yang hidup sehat dan berkeluarga harmonis, arti kata berkat langsung diasosiasikan olehnya dengan kondisi kehidupannya sendiri. Ia adalah seorang wanita yang sangat mengandalkan kecerdikan otak dan pendidikannya yang tinggi, … yang merasa bangga sekali akan hal itu. Dugaan saya, ia menjadi tersinggung, oleh karena merasa hidupnya jauh lebih ‘beruntung’ dibandingkan dengan kehidupan pemimpin sel kami yang tidak lama sebelumnya mengalami beberapa musibah secara berturut-turut, baik di bidang bisnis maupun kesehatan anggota keluarganya.

Saya kurang ingat akan detil kelanjutan diskusi yang terjadi, di mana mau tak mau kami semua akhirnya juga ikut terlibat di dalamnya. Tetapi yang pasti, suasana malam tersebut menjadi sangat tidak enak. Sampai pertemuan itu berakhir ia tetap berpendapat, bahwa ia tidak perlu menjadi pengikut Kristus untuk ‘mengejar’ berkat, sebab ia sudah lama mempunyainya! Tentu saja oleh karena arti kata itu dipandang dari dua sudut yang berbeda sekali.

Tetapi saya bisa memahami pendapatnya, karena memang tidak jarang orang-orang kristiani sendiri pun menyalah-gunakan makna kata tersebut! Gerakan Prosperity Gospel (Injil Kemakmuran) di tahun 70-an adalah penyebab utama tersebarnya pengertian (baru) yang keliru, yang amat menjurus pada pandangan-pandangan duniawi masyarakat umum.

Mereka memberitakan, bahwa orang-orang Kristen mempunyai kepastian untuk selalu hidup diberkati, ... hidup tanpa masalah, penuh kedamaian, bebas penyakit, dan terutama, … kaya-raya! Semua itu adalah hak orang-orang percaya! Sehingga menurut mereka, jika ada orang-orang kristiani lainnya yang hidupnya tidak memancarkan kesuksesan-kesuksesan seperti itu, kebenaran iman mereka patut diragukan. Apalagi jika kesehatan tubuh mereka sedang terganggu! Yang terserang penyakit fatal biasanya dituduh … masih hidup di dalam dosa. Siapakah yang tidak pernah bertemu atau bersekutu dengan orang-orang ‘super kristiani’ semacam itu?

Patokan-patokan pandangan mereka selalu berdasarkan contoh-contoh kemakmuran hidup tokoh-tokoh alkitab pilihan Tuhan yang dilukiskan di dalam Perjanjian Lama, seperti Abraham, Ishak, Yakub dan Yusuf, begitu juga generasi-generasi mereka yang berikutnya. Kitab Kejadian menyatakan: “Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.” (Kejadian 13:2)

Tak terlupakan, Ayub, tokoh yang dikenal sebagai “… orang yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.” (Ayub 1:3c) Bahkan kekayaan raja Salomo di zaman dahulu, yang jelas bukan kekayaan biasa-biasa saja, dijadikan standar oleh mereka untuk kita, … umat (pilihan) Tuhan masakini! Kitab 1 Raja-Raja melukiskan kemakmuran hidupnya seperti ini: “Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat.” (1 Raja-Raja 10:23)

Tetapi tokoh-tokoh lainnya yang tidak memenuhi syarat-syarat itu jarang sekali disebut oleh mereka. Apalagi yang hidupnya selalu diliputi oleh penderitaan, seperti yang dialami oleh Yeremia, Hosea, Stefanus (Kisah Para Rasul 6-7) dan lain sebagainya.

Tidaklah mengherankan jika sebagai akibatnya, terpengaruh oleh ajaran-ajaran seperti itu banyak orang pergi ke gereja bukan untuk beribadah, agar bisa bersama umat kristiani lainnya mengasihi, memuji dan menyembah Tuhan dengan sepenuh hati, tetapi karena terdorong oleh motivasi-motivasi egois, yaitu untuk mengejar kesuksesan hidup dan harta kekayaan yang semuanya bersifat sementara serta duniawi sekali!

“Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal.” (Kejadian 24:1)

(Bersambung)

HIDUP YANG ‘DIBERKATI’ (2)

INJIL KEMAKMURAN

Sunday, December 19, 2010

Kristus - Pusat Perayaan Natal


Oleh: John Adisubrata

“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. ...” (Matius 2:11a)

Di akhir zaman ini makna Natal sangat membingungkan mereka yang ikut merayakannya, baik orang-orang Kristen maupun tidak. Kebiasaan-kebiasaan yang dihalalkan masyarakat oleh karena tradisi turun-temurun, baik di dalam maupun di luar gereja, sudah menyelewengkan pengertian makna yang sebenarnya. Sebagai orang-orang beriman tentu kita sependapat, bahwa masa perayaan Natal adalah masa yang diadakan untuk memperingati kelahiran Kristus di kota Bethlehem 2000 tahun yang lalu. Kendatipun tanggal yang ditentukan bukan tanggal kelahiran Yesus yang sesungguhnya, kebanyakan orang kristiani mengakui, bahwa itu hanya merupakan sebuah simbol saja yang mewakili hari tersebut.

Natal adalah saat terpenting yang mengawali penggenapan seluruh rancangan Allah untuk menyelamatkan hidup umat manusia. Tanpa kehadiran Kristus di dunia, rencana tersebut tidak akan pernah terlaksana!

Karena itu, Yesus-lah yang harus menjadi fokus utama mengapa kita merayakannya. Bukan tokoh fiksi Santa Claus, untuk menggembirakan hati anak-anak kecil. Bukan sekedar saling memberi kado, untuk mengesankan hati sesama atau sanak saudara. Bukan sekali setahun merasa wajib (atau terpaksa) untuk pergi beribadah ke gereja. Bukan juga mengadakan pesta makan malam sekeluarga, untuk mengkompensasi waktu-waktu yang hilang gara-gara kesibukan masing-masing sepanjang tahun. Bukan mementingkan pergi bertamasya saat liburan (Natal dan Tahun Baru), untuk memanjakan diri sendiri setelah bekerja keras di tahun itu.

Perhatikanlah kisah hidup Tuhan Yesus Kristus yang penuh dengan makna menakjubkan, yang dicatat di dalam firman Tuhan, mulai dari hari di mana kita setiap tahun memperingati dan merayakannya untuk mengucapkan rasa syukur dan terimakasih atas kesediaan-Nya untuk meninggalkan segala kemuliaan sorgawi, hanya untuk menyelamatkan hidup kita saja!

Ia dilahirkan dalam lingkungan yang paling sederhana, namun langit cerah di malam itu dikumandangi oleh lagu-lagu pujian para malaikat sorgawi. (Lukas 2:14) Tempatnya hanya kandang ternak biasa saja, namun sebuah bintang yang bersinar cemerlang di atasnya membawa tiga bangsawan kaya dari negara-negara Timur untuk datang menyembah Dia. (Matius 2:11)

Proses kelahiran-Nya bertentangan dengan hukum alam (Yohanes 1:1-18), begitu pula cara kematian-Nya (Lukas 23:33-49). Namun di samping kebangkitan-Nya (Matius 28:1-10), tidak pernah ada keajaiban-keajaiban lain yang lebih dahsyat dari pada kedua peristiwa itu. Ajaran-ajaran yang Ia berikan pada masa pelayanan-Nya yang singkat di dunia juga dipenuhi oleh mujizat-mujizat yang menakjubkan. Tidak pernah Ia mengusahakan ladang atau industri perikanan, namun Ia mampu menjamu dan mengenyangkan perut lebih dari 5000 orang dengan roti dan ikan yang berkelimpahan. (Markus 6:30-44)

Permadani-permadani tebal yang empuk dan mewah tidak pernah menjadi alas di mana Ia berdiri, namun permukaan air danau yang lembut disertai ombak-ombak sebesar gunung pernah mengalasi jejak-jejak kedua kaki-Nya. (Yohanes 6:19)

Cara penyaliban-Nya dicatat sejarah sebagai hukuman mati yang terkejam sepanjang masa (Yohanes 19), karena bagi Tuhan tidak ada hukuman lain, sebagai korban yang sepadan, yang bisa menebus dosa-dosa umat manusia. Pada saat kematian-Nya hanya sekelompok kecil saja orang-orang yang berdukacita, namun langit kelam yang dipenuhi oleh gulungan-gulungan awan hitam mencurahkan hujan lebat ke atas bumi, ... melukiskan kepedihan hati-Nya. (Lukas 23:44-45)

Orang-orang yang menyalibkan Dia tidak gemetar (Markus 15:16-20a), namun bumi di mana mereka berdiri digoncangkan oleh gempa dahsyat yang menyebabkan tabir Bait Suci terbelah menjadi dua. (Matius 27:51)

Dosa tidak pernah menjamah diri-Nya (Lukas 4:1-13), sehingga tanah yang menjadi merah oleh karena curahan darah-Nya tidak bisa menuntut tubuh-Nya. (Markus 16:6)

Lebih dari tiga tahun lamanya Ia mengabarkan Injil di antara bangsa-Nya. Tidak pernah Ia menulis buku. Tidak pernah Ia mendirikan sebuah organisasi. Tidak pernah Ia membangun markas-markas besar untuk para pengikut-Nya. Namun ... 2000 tahun kemudian, selain tahun kelahiran-Nya dipergunakan sebagai poros untuk mengukur waktu, nama-Nya tetap dicatat sebagai tokoh terpenting di dalam sejarah kehidupan manusia. Bahkan dengan berlalunya waktu jumlah para pengikut-Nya juga terus meningkat berlipat-lipat ganda, tersebar di seluruh penjuru bumi.

Ajaran-ajaran dan kisah hidup-Nya merupakan tema menarik yang tak henti-hentinya dijadikan bahan percakapan, artikel, renungan dan khotbah orang-orang/hamba-hamba Tuhan. Sampai saat ini Ia dikenal oleh masyarakat dunia sebagai satu-satunya Penebus dosa umat manusia yang turun dari sorga. (Yohanes 14:6, Kolose 1:14) Tidak ada pelopor/pendiri agama-agama lainnya yang berani memberikan pernyataan seperti itu.

Biarlah kita selalu mengingat, bahwa Kristus-lah pusat perayaan Natal tahun ini, dan bukan kegiatan-kegiatan lain yang tampak menarik, yang dengan mudah bisa memindahkan fokus dari tujuan kita yang sebenarnya itu, yaitu untuk menggabungkan diri dengan ketiga orang Majus tersebut, ... pergi mencari-Nya, “... lalu sujud menyembah Dia.” (Matius 2:11)! Haleluya!

Terpujilah nama Tuhan sampai selama-lamanya! Amin.

John Adisubrata
Desember 2010

Thursday, December 9, 2010

Selamat Berpisah, Darlene Zschech


Oleh: John Adisubrata

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. ... ada waktu untuk menanam, ... ada waktu untuk membangun; ... .” (Pengkhotbah 3:1-3)

Apabila saya mendengar atau membaca kata Hillsong di manapun saja, kata lain yang segera terbersit di dalam ingatan saya adalah nama Darlene Zschech, pencipta lagu termashyur Shout to the Lord, yang sekarang sudah dijuluki sebagai ‘lagu kebangsaan Kristen’ masakini. Memang ada banyak nama-nama orang atau judul-judul lagu lainnya yang juga bisa langsung diasosiasikan dengan kata itu, namun jelas bagi kebanyakan orang, nama wanita pemimpin praise and worship yang terkenal di dunia inilah nama pertama yang selalu muncul di dalam benak pikiran mereka.

Darlene yang juga sudah menciptakan lagu-lagu kristiani lainnya, seperti: I Will Run to You, All Things are Possible, Glory to the King, The Potter’s Hand, And That My Soul Knows Very Well, Worthy is the Lamb dan lain sebagainya, diakui sebagai salah seorang penggubah lagu-lagu puji dan sembah modern, di samping Reuben Morgan dan Geoff Bullock, yang telah berhasil membuat nama Hillsong Church di kota Sydney, Australia menjadi termashyur di dunia.

Namanya yang sukar sekali untuk dieja, tetapi oleh karena keunikan pelafalannya, menjadi nama yang mudah diingat, adalah nama artis kristiani pertama yang saya ketahui. Saya mendengar suaranya untuk pertama kali tahun 1997 di dalam sebuah toko buku Kristen di kota Brisbane, Australia, saat istirahat makan siang. Ketika memasukinya mereka sedang memutar lagu-lagu penyembahan syahdu dari album Hillsong: ‘Simply Worship’. Saya tertegun sekali kala mendengar suaranya yang amat merdu, mendendangkan irama lagu-lagu catchy yang amat khas. Pada waktu lagu ‘Show Me the Way’ dikumandangkan melalui loudspeakers toko tersebut, saya memberanikan diri untuk menanyakannya. Itulah saat di mana saya mendengar nama Darlene Zschech dan Hillsong Church untuk pertama kalinya.

Tak pernah terbayang, bahwa akhirnya kami sekeluarga menjadi anggota sebuah gereja, di mana Darlene dibesarkan dan mengalami kelahiran barunya. Harus saya akui, bahwa setelah bertemu dengan dia pada suatu kesempatan secara pribadi, saya merasa kagum sekali akan talenta, sikap hidup, bahkan kelembutan dan kerendahan hatinya. (Baca: Tribute: Darlin’ Darlene) Yang lebih mengesankan lagi, setahun yang lalu gereja kami yang dulunya bernama ‘Garden City Christian Church’ tersebut dinyatakan sebagai Gereja Hillsong yang keempat di Australia, Kampus Brisbane. (Baca: Hillsong Brisbane)

Baru-baru ini melalui sebuah dokumentasi TV, Marty Sampson menceriterakan suatu peristiwa yang terjadi pada saat para artis dan pemusik Hillsong sedang berkumpul bersama-sama. Ketika salah seorang di antara mereka bertanya, ... siapakah yang mempunyai hubungan paling dekat dengan Tuhan, secara bercanda Darlene menjawab: “Aku!” Marty tertawa mendengarnya. Tetapi kemudian setelah terhening sejenak, dengan menatap lensa kamera dalam-dalam, ia mengakui dengan jujur: “Jika aku pertimbangkan lagi secara fakta, sekalipun ia hanya bergurau saja, apa yang dikatakan olehnya itu tepat sekali. Buktinya, tidak ada seorangpun di antara kami yang bisa membawa jemaat (gereja) menghadap Tuhan melalui puji dan sembah dengan pengaruh sebesar Darlene.” Saya mengaminkan pendapatnya!

Terus terang saja, saya selalu menjadi bergairah sekali, setiap kali mendengar ia diutus gereja pusat untuk datang melayani di kampus kami. Dari banyak pilihan artis-artis lain yang dijadwal untuk datang ke Hillsong Brisbane, hanya Darlene seorang saja yang membuat saya tidak bisa menunggu saat tibanya akhir pekan. Saya yakin, nostalgia masa kelahiran baru saya hampir 14 tahun yang lalu, yang menyebabkan saya memasuki pintu toko buku Kristen di mana untuk pertama kalinya saya mendengar suaranya yang indah dan penuh urapan, memegang peranan penting sekali mengapa saya mempunyai sikap seperti itu.

Tetapi pada acara kebaktian Jum’at malam di akhir November 2010 yang baru lalu, saya dikejutkan oleh berita yang diumumkan di gereja, bahwa ... setelah menjadi anggota Hillsong Church selama 25 tahun, Darlene dan suaminya, Mark Zschech, akan mengundurkan diri bulan Januari 2011 dari pelayanan mereka di sana, untuk mengambil alih dan memimpin sebuah gereja Pantekosta bernama Church Unlimited di Australia’s Central Coast, sebuah suburb tidak jauh dari tempat di mana gereja besar itu berada.

Dengan penuh iman Mark menyatakan, bahwa mereka berdua sedang memasuki suatu era baru yang indah dan subur. Menurut dia, akhir-akhir ini Tuhan sudah menanamkan dua buah kata di dalam hati mereka berdua: lead (memimpin) dan build (membangun). Oleh karena itu, sesuai panggilan-Nya, mereka ingin membangun gereja tersebut untuk semua orang.

Bertentangan dengan kabar simpang-siur disertai tuduhan-tuduhan negatif yang menguasai berbagai macam media semenjak berita itu diumumkan, gembala sidang Hillsong Church, Ps Brian Houston, menyikapi pengunduran diri mereka dengan positif sekali. Bahkan ia memberkati ketaatan mereka untuk menuruti kehendak dan tuntunan Roh Kudus. Ia mengakui, bahwa kesetiaan pelayanan Mark dan Darlene di sana memegang peranan amat penting di dalam pertumbuhan Gereja Hillsong dari sebuah gereja local kecil yang awalnya tidak dikenal oleh masyarakat Australia, menjadi sebuah megachurch yang termashyur sekali di seluruh dunia. Saat ini hampir tidak ada orang-orang kristiani yang tidak pernah mendengar nama mereka!

Saat mengumumkannya kepada jemaat pusat Gereja Hillsong di kota Sydney, Ps Brian Houston berkata: “Keluarga Zschech adalah salah satu bagian terpenting yang sudah melengkapi kehidupan gereja kita seperempat abad lamanya. Dan sekalipun kita akan merasa sangat kehilangan, kita tahu, keputusan mereka itu adalah keputusan disertai langkah iman yang baik, dalam waktu yang tepat, untuk melengkapi perkembangan pelayanan mereka.” Ia juga menambahkan, bahwa sekalipun keluarga Zschech bukan anggota Gereja Hillsong lagi, mereka akan tetap ikut mengambil bagian di dalam proyek-proyek praise and worship mendatang, termasuk live albums dan Hillsong conferences.

Mark dan Darlene akan memulai tugas mereka sebagai gembala-gembala sidang Church Unlimited pada tanggal 23 Januari 2011.

Jelas sekali, seperti pendapat banyak anggota Gereja Hillsong lainnya di setiap kampus di Australia yang mengasihi dia, saya juga pasti akan merasa sangat kehilangan Darlene Zschech tahun depan. Kendatipun demikian, saya berdoa agar ia dan suaminya bisa terus dipakai oleh Tuhan, bahkan dengan lebih dahsyat lagi! Karena saya setuju, seperti pernyataan yang pernah diutarakan oleh Marty Sampson di dalam dokumentasi TV yang saya singgung sebelumnya, ... Darlene memang mempunyai hubungan yang amat dekat dengan Tuhan!

Selamat berpisah, Darlene. Selamat jalan! Biarlah Tuhan memberkati pelayan kalian berdua selalu, untuk mempersiapkan kedatangan Raja di atas segala raja, Sang Penebus, Tuhan Yesus Kristus!

Terpujilah nama-Nya untuk selama-lamanya. Haleluya. Amin!

John Adisubrata
Desember 2010

Friday, September 3, 2010

Dosa-Dosa Rahasia (4)


Oleh: John Adisubrata

CONFIDE IN HIM!

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23)

Ditujukan kepada semua orang kristiani, alkitab memperingatkan: Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” (1 Yohanes 3:9) Melalui suratnya rasul Paulus juga menasihati jemaat di Korintus: Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17)

Kedua ayat tersebut mengingatkan, bahwa sebagai umat yang sudah diselamatkan, kita dituntut untuk selalu (berusaha!) hidup kudus, karena semenjak saat perubahan penting itu terjadi, kita adalah umat ciptaan yang baru di dalam Kristus. Kendatipun demikian, sekalipun dinyatakan bahwa kita sudah disisihkan dari ‘dunia’, sedari awal kita tetap diciptakan sebagai makhluk-makhluk yang diberi kebebasan untuk memilih!

Itulah sebabnya, apabila kita tidak bersandar sepenuhnya pada firman Tuhan, setiap kali Iblis mengiming-imingkan kekuasaan, kehormatan, kekayaan, maupun kesempatan untuk memuaskan nafsu seksuil kita, biasanya tanpa mempertimbangkan lagi harga amat mahal yang akhirnya harus dibayar, kita sudah tertipu olehnya. Dan sebelum menyadarinya sendiri, kita sudah ‘terjun’ ke dalam lumpur dosa, ... melaksanakan kehendaknya. Tidaklah mengherankan, banyak orang (kristiani) yang ‘jatuh’, ... terjebak oleh kelihayan tipu muslihatnya.

Alkitab-lah satu-satunya sumber kebijaksanaan yang (harus) menjadi pedoman hidup kita. Apabila kita mau mempelajarinya dengan tekun, dan terutama ... mempraktekkannya, pada saat kita menghadapi godaan-godaan seperti itu, kita dikaruniai kekuatan adikodrati untuk bisa membedakan mana yang benar dan apa yang salah! Kitab Ibrani mengatakan: Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12)

Yesus sendiri sudah membuktikan, bahwa firman Tuhan adalah senjata paling ampuh di dalam menghadapi godaan-godaan Iblis. (Efesus 6:11) Ketika dicobai di padang gurun, seperti kita sekarang, Ia juga harus memilih dan memberi keputusan! Injil mencatat, bahwa setiap jawaban yang Ia berikan selalu diawali dengan ungkapan: Ada tertulis, …” (Lukas 4:1-13)

Sejujurnya saja, siapakah yang tidak ingin melupakan ‘masa lampau’ mereka? Baik hal-hal ‘memalukan’ yang pernah terjadi, maupun hasrat di dalam hati yang kita pendam seumur hidup tanpa keberanian untuk melakukannya. Atau, keinginan untuk mengakhiri kebiasaan-kebiasaan yang sampai sekarang dengan penuh kesadaran masih kita lakukan secara sembunyi-sembunyi, sekalipun kita tahu itu adalah perbuatan dosa.

Alkitab menganjurkan, agar kita saling mengakui dan saling mendoakan. (Yakobus 5:16) Selain itu, seperti pengakuan dosa raja Daud yang dicatat di Mazmur 51, Tuhan juga ingin agar kita selalu berterus-terang kepada-Nya, mengakui segala kesalahan, kejahatan dan perbuatan-perbuatan dosa yang (pernah) kita lakukan.

Menyadari kemutlakan kuasa Tuhan, raja Daud berkata: “Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu.” (Mazmur 69:6) Ia juga mengagumi kemaha-tahuan-Nya: “Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.” (Mazmur 139:4) Bagi dosa-dosa masa lampaunya ia bermazmur: Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.” (Mazmur 25:7-8)

Dan ... bersyukur sekali akan pengampunan Tuhan, raja Daud berkata: ‘Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela’ (Mazmur 32:5)

Bukankah Yesus pernah berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28) Oleh karena kasih karunia-Nya, apapun yang pernah atau sedang kita lakukan, ... tak terkecualikan, pasti akan diampuni oleh-Nya, jika kita dengan sungguh-sungguh mau mengakuinya. Tetapi selain itu, seperti yang tertulis di 1 Yohanes 3:9 dan 2 Korintus 5:17, adalah tanggung jawab kita sendiri untuk menjaga, agar kita tidak memberi kesempatan kepada Iblis untuk menggoda dan menipu diri kita lagi. Rasul Paulus menulis: “ ... dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:27)

Seorang pendeta mengutarakan hasrat hatinya untuk mengubah taman di depan rumahnya menjadi sebuah lingkungan yang menarik bagi burung-burung liar di daerahnya. Tetangganya menganjurkan agar ia memperlengkapinya dengan rumah-rumahan, tempat minum/mandi untuk burung, dan juga menyediakan makanan-makanan kesukaan mereka. Setelah menuruti nasihat tetangganya, dalam waktu sekejab suasana taman itu menjadi berubah sekali. Berbagai jenis burung mulai berdatangan dan singgah di sana. Tampaknya mereka menjadi kerasan sekali tinggal dan bermain-main di halaman depan rumahnya. Memakainya sebagai sebuah ilustrasi yang relevan, pendeta itu berkata, bahwa seringkali tanpa sadar kita juga melakukan hal yang serupa. Kita memberi kesempatan kepada Iblis dengan menciptakan sebuah lingkungan di dalam kehidupan kita di mana ia merasa welcome sekali untuk menetap.

Raja Daud pernah menciptakan lingkungan seperti itu ketika ia bermalas-malasan seorang diri di atas balkon istananya, pada saat seluruh perwira dan tentaranya sedang pergi berjuang di medan perang. Terpikat oleh tipuan Iblis, ... dibara oleh nafsu ‘kejantanan’-nya, akhirnya ia menjadi lupa daratan dan jatuh di dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba! (2 Samuel 11) Tindakan yang awalnya ia lakukan tanpa sadar itu, tidak berbeda jauh dengan tindakan-tindakan rahasia yang kita kerjakan sekarang. Pada saat kita membaca atau menonton bahan-bahan yang bersifat porno, seorang diri di dalam kamar yang tertutup, dengan sukarela kita sudah membiarkan Iblis masuk ke dalam kehidupan kita. Itulah awal mula terciptanya dosa-dosa rahasia yang biasanya tidak akan berakhir di situ begitu saja, melainkan akan berkembang terus menjadi dosa-dosa yang lebih besar!

Apabila oleh karena situasi yang tak terduga, kita telah terlanjur membiarkan Iblis menduduki tempat di dalam kehidupan kita, alkitab berkata, bahwa Tuhan sudah memberi kuasa kepada umat-Nya untuk merebutnya kembali! Pertama-tama: dengan iman: “... sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yohanes 5:4) Iman-lah yang membuat kuasa itu dianugerahkan kepada kita untuk memenangkan peperangan rohani yang kita hadapi sehari-hari. Kedua: dengan iman kita melawannya: “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yakobus 4:7) Kuasa firman Tuhan, di dalam nama Yesus, pasti akan membawa kemenangan bagi kita! Tetapi di samping itu, yang harus mempunyai keinginan untuk mengubah sikap hidup serta menjaga kekudusan diri adalah kita sendiri.

Rasul Paulus menasihati jemaat di Filipi: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8) Maksudnya, dari pada kita membuang waktu memikirkan hal-hal sementara yang tidak ada gunanya, yang bisa menyebabkan terciptanya dosa-dosa rahasia, ia menganjurkan agar kita memikirkan hal-hal sorgawi, yang kekal, ... yang bermanfaat bagi kehidupan kita. (Kolose 3:2) Ia menganjurkan, agar kita selalu hidup di dalam Roh: “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” (Galatia 5:16-17)

Seperti yang sudah disinggung di awal artikel ini, setiap orang, termasuk saya, pasti menyembunyikan paling sedikit sebuah dosa rahasia, yang mungkin terjadi di masa lampau atau sampai sekarang masih tetap dilakukan secara diam-diam. Bagi yang mau bertobat, sekalipun awalnya diprakarsai dan ditawarkan oleh Tuhan, kesuksesannya mutlak berada di tangan kita. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali mengabaikan perkataan Yesus kepada wanita yang tertangkap basah sedang berzinah di suatu siang hari bolong, setelah para pendakwanya yang bermaksud merajam dia pergi meninggalkan: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:11)

Perintah itu masih berlaku sampai sekarang bagi semua orang yang bersedia meninggalkan ‘dosa-dosa rahasia’ mereka untuk selama-lamanya, yang mau berjanji untuk selalu mengikuti langkah-langkah-Nya sampai saat kedatangan-Nya kembali untuk kedua kalinya. Haleluya!

Terpujilah nama Tuhan untuk selama-lamanya. Amin!

John Adisubrata
September 2010

Thursday, August 5, 2010

Dosa-Dosa Rahasia (3)


Oleh: John Adisubrata

TRAIN OF THOUGHTS

“Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.” (Matius 5:30)

Sekali lagi, ... selain ada banyak sekali macam dosa yang dirahasiakan oleh setiap orang, baik orang-orang kristiani maupun tidak, sebenarnya hanya ada dua kategori saja yang merangkum semuanya, yaitu: Perbuatan dosa yang pernah terjadi di masa lampau, dan perbuatan dosa yang dengan penuh kesadaran masih dilakukan sekarang. Keduanya bisa terjadi dengan sengaja maupun tidak.

Sengaja dalam arti: “Dari awalnya menyadari kenyataan dosa itu serta akibat-akibatnya, tetapi tetap melakukannya tanpa merasa gentar.”

Tidak sengaja dalam arti: “Dari awalnya menyadari kenyataan dosa itu serta akibat-akibatnya, tetapi walaupun sebenarnya tidak berhasrat, gara-gara emosi yang ‘membara’, menjadi lupa daratan dan akhirnya melakukannya dengan konsekuensi yang tidak jarang ditanggung seumur hidup, baik oleh diri sendiri maupun orang-orang lain.”

Seperti contoh-contoh yang sudah diuraikan sebelumnya, kendatipun tidak 100%, hampir semuanya adalah dosa-dosa seksuil, atau paling sedikit mempunyai kaitan erat dengan tema itu. Awalnya selalu terjadi di ‘alam fantasi seksuil’ seseorang, ... di setiap generasi, terutama yang masih muda belia, alam di mana khayalan-khayalan yang menyesatkan, lamunan-lamunan yang menyimpang, hasrat dan idaman hati setiap orang sudah tidak sesuai lagi dengan kenyataan hidup yang sebenarnya. Karena di sanalah Iblis berusaha untuk mempengaruhi umat manusia dengan menyelewengkan tujuan makna seks karunia Tuhan yang sebenarnya! Memakai ‘kaki-tangan’-nya di dunia, melalui seluruh media yang sedang populer setiap masa, ia menyebarkannya dengan gencar untuk meracuni benak pikiran korban-korbannya, dari yang berbentuk softcore sampai hardcore pornography. Semua itu telah diterima oleh masyarakat sebagai suatu hal yang cukup ‘normal’ di akhir zaman ini. Iblis tahu, jika kita bisa dipengaruhi olehnya di bidang itu, kita sudah menjadi miliknya!

Melalui suratnya, rasul Paulus memperingati jemaat di Efesus: “…, karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:12)

Selain alam roh, arena yang dimaksudkan oleh rasul Paulus di mana aktivitas-aktivitas semacam itu bisa terjadi, adalah alam pikiran kita sendiri. Di sanalah dosa-dosa rahasia manusia dimulai. Pada saat itu menjadi kenyataan, di luar kesadaran sendiri, kita sudah memindahkannya ke dalam hati kita, suatu arena lain di mana dosa-dosa seperti itu disimpan dan disembunyikan.

Kata dosa menurut definisi kamus alkitab mempunyai arti seperti ini: “Tindakan manusia secara perorangan ataupun secara bersama-sama yang menyimpang dari kehendak dan hukum Allah”. Di sini kata ‘menyimpang’ adalah sinonim kata ‘memberontak’, karena bagi Tuhan setiap sikap yang menentang Dia atau hukum-Nya adalah tindakan yang pasti memisahkan diri kita dari hadirat-Nya yang maha kudus.

Menolak atau meremehkan Tuhan, memperkosa atau membunuh seseorang, menggertak, menyalah-gunakan kekuasaan atau menganiaya jiwa (bullying) orang-orang yang lebih lemah, berzinah, mencuri, bergosip ria dan juga berbohong adalah tindakan-tindakan dosa. Dosa adalah dosa, karena memang tidak ada yang bisa dikategorikan sebagai dosa hitam atau dosa putih, dosa besar atau dosa kecil. Segala sesuatu yang menentang hukum Allah adalah dosa, apapun tujuan dan motifnya. Secara default, para ‘pemberontak’ itu sudah berada di pihak Iblis.

Setiap orang, beriman atau tidak, akan dihantui oleh kenyataan, bahwa dosa-dosa rahasia mereka akan selalu melekat di dalam ingatan. Apakah itu aborsi, masturbasi, kecanduan pornografi, homoseksualitas, paedophilia, atau perzinahan, pelacuran, pembunuhan, dan lain sebagainya. Sekalipun kita berusaha keras untuk melupakannya, Iblis tidak akan tinggal diam, karena ia mau memastikan, bahwa semua itu selalu segar di dalam ingatan kita. Apabila kita sudah terlanjur ‘jatuh’, ia juga akan memastikan, bahwa kita tetap terbelenggu oleh dosa-dosa tersebut.

Iblis dijuluki di dalam alkitab sebagai ‘pendakwa’ umat Tuhan. (Wahyu 12:10) Mengenal dosa-dosa rahasia setiap orang, dia-lah penanam ide-ide jahat tersebut di dalam pikiran kita. (Matius 13:25,39a) Tetapi kemudian dengan licik sekali, ia memutar-balik dengan menuduh, bahwa kitalah yang memulai pikiran-pikiran itu, ... kitalah yang menginginkannya. Apalagi ... jika kita sudah terlanjur melakukannya! Iblislah yang menjadi penyebab umat manusia selalu merasa bersalah, malu dan tidak berharga. Ia-lah yang menjadi penyebab kita tak henti-hentinya merasa menyesal.

Sebagai umat yang percaya, kita mempunyai dua pilihan: Menyerah dan menerima godaan-godaan Iblis tersebut begitu saja, terus membayangkan dan ‘menikmati’-nya, atau ... dengan menggunakan kuasa firman Tuhan, kita menghardiknya pergi! Karena jika kita tidak segera bertindak, akhirnya ia akan menguasai dan mendominasi hidup kita.

Itulah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus ketika Ia memperingati para pengikut-Nya: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Matius 5:28)

Jadi jika sebelumnya, di zaman Perjanjian Lama, yang dikategorikan sebagai tindakan-tindakan dosa adalah actions (yang dilakukan), semenjak zaman Tuhan Yesus, ... hanya memikirkan saja (thoughts), kita sudah melakukannya! Iblis-lah yang menanam benih-benih jahat itu. Selama tetap dalam bentuk sebutir bibit (memandang), itu belum dosa. Tetapi pada saat benih tersebut mulai bersemi (menginginkan/membayangkan), sekalipun perzinahan belum terjadi (melakukan), hal itu sudah dikategorikan oleh-Nya sebagai dosa, karena sebenarnya kita sudah menikmatinya!

Jelas sekali, masturbasi adalah suatu tindakan dosa rahasia yang sekaligus merangkum ketiga-tiganya: memandang, menginginkan/membayangkan dan melakukannya!

Sekalipun tema ini tidak pernah dibahas secara langsung di dalam alkitab, tetapi sesuai hukuman mati yang tertimpa pada Onan, anak Yehuda (Kejadian 38), oleh karena perbuatannya yang menyebabkan namanya sampai sekarang dipergunakan di seluruh dunia untuk melukiskan asal-usul masturbasi (onani), pernyataan Yesus tersebut cukup untuk meneguhkan, bahwa hal yang biasanya dirahasiakan dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi itu adalah tindakan dosa!

Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; ...” (Efesus 6:11)

(Bersambung)

DOSA-DOSA RAHASIA (4)

CONFIDE IN HIM!

Thursday, July 22, 2010

Dosa-Dosa Rahasia (2)


Oleh: John Adisubrata

SEXUAL FANTASIES

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, ...” (Kolose 3:5)

Selain sedari dahulu umat manusia memang pandai sekali menutupi dan menyangkal dosa-dosa rahasia mereka sendiri, bahkan berpura-pura seakan-akan mereka adalah orang-orang maha kudus yang tidak pernah terlibat dengan hal-hal yang bertentangan dengan perintah-perintah Tuhan, biasanya mereka juga selalu berusaha untuk membuktikan ‘kebalikan’-nya. Seolah-olah dengan mengecam tindak tanduk orang-orang lain yang berani mempraktekkan dosa-dosa rahasia yang mereka sembunyikan itu, mereka bisa membentuk ‘alibi’ yang kuat.

Menjelang akhir tahun 2006 sebuah skandal tak terduga telah menggoncangkan masyarakat Kristen di Amerika Serikat, di mana seorang hamba Tuhan sudah tertangkap basah melakukan ‘perbuatan’, yang diketahui oleh umum, bertahun-tahun lamanya justru ditentang dan dihakimi olehnya. Melalui khotbah-khotbah di gerejanya, yang juga ditayangkan melalui televisi, ia dikenal sebagai seorang penginjil yang dengan gencar sekali selalu menyerang dan memerangi gaya hidup kaum gay (homoseksuil) di negaranya.

Bersembunyi di balik tedeng aling-aling tersebut, ternyata akhirnya terbongkar, bahwa kendatipun ia sudah menikah dan berkeluarga, diam-diam lebih dari tiga tahun lamanya secara rutin ia sendiri sudah menjadi pelanggan seorang pelacur laki-laki!

Jadi ... untuk menutupi dan menyembunyikan dosa rahasia tersebut, ia rajin menghakimi orang-orang lain yang berani melakukannya. Sungguh tidak berbeda dengan kemunafikan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi di zaman Perjanjian Baru!

Peristiwa yang serupa terjadi pertengahan bulan Mei 2010 yang lalu, di mana seorang politikus Australia juga telah tertangkap basah melakukan hal yang sama. Diberitakan oleh media nasional, bahwa pria setengah abad yang sudah beristri dan mempunyai keluarga itu berhasil mengelabui mata mereka lebih dari 20 tahun lamanya. Bahkan penduduk daerah yang diwakili olehnya tidak pernah menyadari kelakuannya. Seperti Herman Rockefeller, ia mempraktekkan hidup penuh kemunafikan, ... a double life! Dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang menggagaskan kesejahteraan hidup kekeluargaan yang harmonis, ternyata ia sendiri sudah mengkhianati hal itu bertahun-tahun lamanya. Secara diam-diam, untuk melampiaskan gairahnafsu seksuil yang dirahasiakan olehnya selama itu, ia sering mengunjungi sebuah Gay Club daerah lampu merah kota Sydney dengan harapan untuk bisa menemui seorang yang seminat, yang bersedia menjadi pasangan seksuilnya secara casual.

Ditujukan kepada semua orang, Yesus pernah berkata: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” (Yohanes 12:46) Memang kenyataannya, tidak ada yang bisa disembunyikan di hadapan Tuhan, ... lambat-laun semuanya akan dibongkar oleh-Nya. Kalau tidak sekarang, tentu pada saat penghakiman di akhir zaman! Markus mencatat: “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu rahasia yang tidak akan tersingkap.” (Markus 4:22)

Menjelang akhir November 2009, kebenaran ayat itu digenapi di dalam kehidupan salah seorang golfer terhebat saat ini! Tiger Woods, yang dipromosikan di negaranya, dan juga di dunia, sebagai seorang suami dan ayah yang patut diteladani, berhasil mengejutkan para penggemarnya, bahkan masyarakat umum lainnya yang biasanya tidak pernah tertarik untuk mengikuti perkembangan olahraga tersebut. Di luar dugaannya sendiri rahasia yang tadinya ia sembunyikan begitu rapat bertahun-tahun lamanya dari pengetahuan istri, keluarga dan juga fannya, tiba-tiba terbongkar dan langsung menjadi bahan percakapan terhangat media dunia pada saat itu. Ternyata di balik topeng kealiman yang selalu diperagakan olehnya di depan umum, lelaki jutawan bertampang kalem inipun menyimpan sebuah dosa rahasia! Selama itu ia sudah melibatkan dirinya secara seksuil dengan paling sedikit selusin wanita-wanita cantik, dari yang bertaraf callgirls (pelacur-pelacur panggilan) sampai artis-artis yang pernah membintangi film-film porno!

Belum lama ini saya mengenal seorang pria berusia lanjut yang seumur hidupnya berhasil merahasiakan sebuah peristiwa yang terjadi di masa mudanya. Dikenal sebagai seorang kepala rumah tangga yang baik, seorang ayah yang beriman pada Kristus, sering kali ia dijadikan teladan oleh keluarga-keluarga lainnya. Beberapa hari sebelum ia meninggal dunia, melalui peristiwa tak terduga, terbongkarlah, bahwa ternyata sebelum menikah, ia sudah mempunyai seorang anak dengan wanita lain. Anak-anak kandungnya yang menjadi terpana mendengar dosa rahasianya dilucuti di depan mereka, merasa kecewa sekali. Karena ternyata, kendatipun sebelumnya ayah mereka mempunyai banyak kesempatan untuk menjelaskan hal itu kepada anak-anaknya, ia memilih untuk tetap merahasiakannya.

Sampai saat ini tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengetahui latar belakang kejadian tersebut. Berbagai pertanyaan tak terjawabkan timbul di dalam hati mereka: Siapakah wanita itu? Mengapa setelah mengetahui kehamilannya mereka tidak menikah saja? Apakah yang menyebabkan ia berpisah dengan wanita itu, lalu menikah dengan ibu kandung mereka? Ternyata detil-detil penting yang ketika itu bisa ia bagikan kepada anak-anaknya untuk menolong mereka memahami seluk-beluk terjadinya peristiwa tersebut, dibawa pergi olehnya masuk ke liang kubur untuk selama-lamanya.

Salah seorang anaknya yang ingin sekali memperbaiki kekeliruannya dahulu, berusaha menghubungi kakaknya. Dengan menawarkan jalinan persahabatan, ia ingin memulai suatu era hidup kekeluargaan yang baru bersamanya. Tetapi sayang sekali, upayanya ternyata gagal, karena setelah merasa seumur hidupnya ditolak dan diabaikan oleh ayah mereka, penuh kepahitan kakaknya menolak untuk menanggapi uluran tangannya.

Ternyata perkataan Yesus yang dicatat di Markus 4:22 tersebut tidak hanya berlaku untuk melucuti tindakan-tindakan dosa yang sedang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tetapi juga untuk membongkar peristiwa-peristiwa memalukan yang pernah terjadi di masa lampau seseorang. Di samping itu ada juga dosa-dosa rahasia yang mempunyai konsekuensi seperti yang ditulis oleh rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Roma: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23)

Salah satu peristiwa cukup unik mengenai terbongkarnya sebuah dosa rahasia yang berakhir dengan maut, adalah kisah seorang bekas serial killer dari Amerika Serikat bernama Ted Bundy. Mengaku sebagai seorang yang dibesarkan di dalam keluarga Kristen yang ‘normal’, ia berhasil menyembunyikan perbuatan-perbuatan jahatnya dengan licin sekali. Semua itu diawali oleh sebuah majalah porno yang ia temukan di dalam tong sampah tetangga ketika ia masih berumur 12 tahun. Semenjak saat itu ia diracuni (dirasuki!) oleh roh Iblis yang menyebabkan ketagihannya akan segala sesuatu yang berkaitan dengan pornografy dan sexual fantasies yang sudah tidak sesuai lagi dengan tujuan hubungan seks yang sebenarnya. Ia mengakui, bahwa dengan berlalunya waktu, dosa-dosa rahasianya pun berkembang terus, meningkat ... dari lamunan-lamunan yang awalnya hanya menodai benak pikirannya saja, menjadi tindakan-tindakan keji yang membawa maut pada setiap korbannya.

Karena pandainya berpura-pura, ayah, ibu, saudara-saudara dan keluarga terdekatnya, bahkan teman-teman kuliahnya, tidak pernah menduga, bahwa selama lebih dari 10 tahun terakhir itu ia sudah membantai 28 wanita dengan kejam sekali! Tetapi pada tanggal 24 Januari 1989, tepat jam 7:16 pagi, pembunuh yang menjadi lebih termasyhur lagi gara-gara pertobatan dan kelahiran-barunya, menuai konsekuensi dari dosa-dosa rahasianya, yaitu ... maut! Pagi itu ia dihukum mati di atas kursi listrik penjara. (Baca: D.O.A.: Nyaris Tiada Maaf, bagian 1-4)

“Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.” (Lukas 8:17)

(Bersambung)

DOSA-DOSA RAHASIA (3)

TRAIN OF THOUGHTS