Showing posts with label Kasih Karunia. Show all posts
Showing posts with label Kasih Karunia. Show all posts

Thursday, November 17, 2011

Hidup yang ‘Diberkati’ (4)


Oleh: John Adisubrata

BERKAT-BERKAT SORGAWI

“Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)

Saya menyadari, bahwa mengenai berkat, setiap orang, baik masyarakat sekuler maupun umat kristiani, mempunyai pendapat sendiri-sendiri. Oleh karena itu saya juga selalu berusaha untuk menghargai pandangan orang-orang lain, selama pandangan itu tidak menyelewengkan isi firman Tuhan, atau merugikan kehidupan umat yang lain.

Mengawali persiapan untuk menulis artikel ini, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, saya mengunjungi situs Dictionary.com untuk mempelajari kata berkat sesuai pandangan umum. (lihat: Hidup yang Diberkati - Bab 1) Selain itu saya juga mencoba mempelajari makna kata tersebut dari sudut pandangan masyarakat kristiani sendiri. Karena ingin mengetahui datanya, menggunakan search engine Alkitab SABDA Online, saya berusaha menemukan jumlah kata berkat yang tercantum di dalam alkitab berbahasa Indonesia. Menurut keterangan situs itu kata tersebut tampil sebanyak 278 kali di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, baik yang dipergunakan sebagai kata kerja transitif, kata sifat, maupun kata benda.

Berkat di dalam Perjanjian Lama berasal dari kata Ibrani: berakha yang mempunyai arti: karunia benda (material), lawan dari kata ‘kutuk’, dan pemberkatan. Sedangkan di dalam Perjanjian Baru kata itu berasal dari kata Yunani: eulogia yang berarti: terakhir, karunia rohani yang didatangkan oleh Injil, karunia material, dan juga kemewahan.

Ternyata kata berkat tampil untuk pertama kalinya di awal kitab Kejadian, ketika Allah sedang memperhatikan ciptaan-Nya di hari yang kelima: ‘Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.” (Kejadian 1:22) Dan untuk terakhir kalinya kata itu tercantum di dalam surat Petrus yang pertama: …, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab: …” (1 Petrus 3:9b)

Melalui referensi-referensi di atas, terbukti bahwa berkat memang dianugerahkan oleh Tuhan kepada segenap ciptaan-Nya. Umat manusia tak terkecualikan, baik yang ingin diselamatkan, maupun yang menolaknya! Yesus meneguhkan hal itu saat berkhotbah di atas bukit: “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:45)

Jadi segala sesuatu yang dari awalnya diciptakan oleh Bapa di sorga, … dunia dan segala isinya, adalah berkat-berkat yang menjadi hak semua orang untuk dinikmati. Oleh karena itu mudah sekali untuk memahami perasaan wanita di pertemuan selgrup kami yang menjadi tersinggung ketika ditantang untuk menjadi pengikut Kristus. (lihat: Hidup yang Diberkati – Bab 1)

Padahal sesuai terjemahan kata-kata berakha dan eulogia, berkat sebenarnya mempunyai arti yang jauh lebih luas, yang tidak terbatas pada hal-hal duniawi saja. Raja Salomo menulis amsal berdasarkan pengalamannya sendiri: Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.” (Amsal 16:16) Sedangkan nabi Yesaya menubuatkan: “Masa keamanan akan tiba bagimu; kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan; takut akan TUHAN, itulah harta benda Sion.” (Yesaya 33:6)

Di dalam surat yang ditujukan kepada jemaat di Efesus, rasul Paulus menulis: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” (Efesus 1:3) Dan inilah berkat terpenting yang berhasil mengubah arah sejarah dunia: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Memang bagi masyarakat Kristen yang mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, janji-janji berkat ‘keselamatan’ dan ‘hidup yang kekal’ cukup memberikan dampak sukacita yang optimal. Karena bagi mereka, berkat itulah yang terpenting, yang membuat berkat-berkat lainnya tampak pudar dan tak berarti sama sekali. Orang-orang yang pernah mengalami fenomena kelahiran baru tentu bisa memahami hal tersebut.

Tetapi, ... apakah itu berarti bahwa orang-orang kristiani tidak berhak untuk mengingini berkat-berkat lain ciptaan Tuhan yang sudah dikaruniakan kepada mereka? Tentu saja tidak! Lagi pula, siapakah yang tidak mau hidup enak, makmur, sehat dan kaya raya? Saya yakin semua orang mau, ... saya tak terkecualikan! Hanya motif-motif setiap orang saja yang akan membedakan sebab, hasil dan akibatnya!

Bertentangan dengan ajaran Injil Kemakmuran, menurut kitab Ulangan 28:1-14, berkat (berakha) tidak dianugerahkan begitu saja, tetapi selalu disertai oleh syarat-syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh mereka yang menghendakinya. Perhatikanlah potongan ayat-ayat yang mengandung kata-kata jika dan apabila ini: Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, …” (ayat 1a); “… , jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: …” (ayat 2b); “…, jika engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.” (ayat 9b) dan “…, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (ayat 14)

Apabila semua itu sudah dilakukan oleh mereka, maka: “Segala berkat (berakha) ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu.” (ayat 2a) Termasuk di dalamnya: Berkat untuk segala sesuatu yang kita lakukan; berkat untuk keluarga, pekerjaan dan seluruh harta milik kita; berkat kemenangan atas lawan-lawan kita; bekat sebagai umat pilihan Allah. (Ulangan 28:1-14)

Biasanya umat Tuhan selalu mengharapkan berkat-berkat yang luar biasa. Tetapi mereka tidak mau tahu akan syarat-syaratnya. Karena memang berkat-berkat yang radikal dan luar biasa datang dari sikap berserah yang radikal dan luar biasa juga. Kemauan untuk menuruti kehendak Tuhan berdasarkan hikmat, baik yang dinyatakan melalui firman-Nya maupun yang dibisikkan di dalam hati kita, pasti akan memberi berkat kemampuan adikodrati, apabila kita bersedia untuk melakukannya. Sikap yang taat itulah yang menyebabkan berkat-berkat Tuhan dicurahkan kepada kita. Kitab Amsal melukiskan kehidupan orang-orang yang memiliki hikmat: Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.” (Amsal 3:16)

Oleh karena itu alkitab selalu memperingatkan umat Tuhan untuk tidak mementingkan harta kekayaan, apalagi mengejarnya. Dianjurkan di sana agar orang-orang percaya, khususnya para pemuka gereja harus bebas dari mencintai uang. (1 Timotius 3:1-3) Iman sebesar biji sesawi tidak dikaruniakan kepada kita untuk ‘mengimani’ kekayaan dan kemakmuran hidup, melainkan untuk selalu percaya dan berserah kepada-Nya, karena tahu bahwa Ia tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita! Surat Ibrani memperingatkan: Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5)

Bagi umat kristiani, Mazmur Daud inilah yang mencerminkan kehidupan mereka yang sejati: TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (Mazmur 23)

Mazmur tersebut membuktikan, bahwa kendatipun raja Daud, seorang yang dipilih dan berkenan di hati Tuhan (1 Samuel 16:13; Kisah Para Rasul 13:22), tahu bahwa ia selalu berada di dalam pemeliharaan-Nya, ternyata seperti umat Tuhan lainnya, ia juga tidak kebal terhadap kesulitan atau tantangan-tantangan hidup. (Mazmur 23:4a) Perlu ditekankan, bahwa tokoh-tokoh alkitab lainnya yang mahamakmur seperti Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Ayub dan raja Salomo, … mereka semua juga harus melewati perjuangan-perjuangan yang serupa! Karena memang tidak ada jaminan bagi orang-orang kristiani untuk selalu hidup makmur, sejahtera dan tanpa masalah. Itu adalah ajaran-ajaran isapan jempol! Yang pasti hanyalah janji-janji Tuhan untuk selalu menyertai dan menolong kita di dalam segala keadaan! (Mazmur 23:4b; Matius 28:20)

Tidak bisa disangkal, bahwa di setiap generasi umat kristiani akan selalu ada orang-orang tertentu yang menerima karunia berkat kekayaan yang luar biasa. Seakan-akan kesuksesan hidup tidak mau berhenti mengejar mereka! Tetapi selama mereka menyadari, bahwa semua itu dianugerahkan oleh Tuhan dengan satu tujuan yang mulia, yaitu untuk kebesaran kerajaan dan kemashyuran nama-Nya, dan … bukan untuk memperkaya diri sendiri dengan menyalah-gunakan kepercayaan itu, tujuan karunia tersebut tentu tidak akan sia-sia. Umat Kristen yang sudah menerima kehormatan seperti itu wajib mengingat, bahwa … semua itu adalah milik Tuhan! (1 Korintus 10:26)

Marilah kita bersyukur dengan selalu menyadari berkat-berkat yang sudah kita terima selama ini, agar kita bisa dijadikan berkat oleh Tuhan bagi umat-Nya yang lain, yang sedang membutuhkannya. Terpujilah nama Tuhan untuk selama-lamanya. Haleluya!

John Adisubrata
November 2011

Friday, November 4, 2011

Hidup yang ‘Diberkati’ (3)


Oleh: John Adisubrata

MAKMUR ‘MELAYANI’

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24)

Pernah sekali melalui surat yang ditujukan kepada Timotius, rasul Paulus memperingatkan agar murid kesayangannya itu tidak terpengaruh oleh orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. (1 Timotius 6:5) Ia juga memperingatkan akibat-akibatnya: Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” (1 Timotius 6:9)

Paulus meneruskan: Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:10)

Perhatikanlah teladan-teladan yang diberikan oleh Kristus kepada para pengikut-Nya ketika Ia masih melayani di dunia. Apabila harta kekayaan merupakan tujuan utama kehidupan umat kristiani di dunia, pasti Ia sudah mengajarkan hal itu kepada mereka. Namun alkitab membuktikan kebalikannya! (Matius 6:11, Lukas 22:34) Karena selama itu Tuhan Yesus justru hidup sederhana sekali. Matius mencatat perkataan-Nya sendiri: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Matius 8:20)

Berlawanan sekali dengan kebiasaan orang-orang kristiani yang terpandang di akhir zaman ini, Ia tidak berkecimpung hanya dengan orang-orang yang berpengaruh, intelektuil, atau yang kaya raya saja, yang bisa menguntungkan diri-Nya, tetapi Ia justru menghabiskan banyak waktu dengan mereka yang diabaikan oleh masyarakat, yang sangat membutuhkan pertolongan-Nya.

Selain itu seperti keadaan sekarang, para murid dan pengikut-pengikut Kristus dahulu juga berasal dari pelbagai lapisan masyarakat, dari orang-orang yang tergolong cendekiawan sampai yang tak berpendidikan, dari orang-orang yang sangat berada sampai yang miskin sekali. Kecuali salah seorang murid-Nya, alkitab mencatat, bahwa mereka selalu meneladani tingkah laku-Nya. Hanya murid itu saja yang berani mengkhianati dengan menjual Dia, terdorong oleh rasa tamak akan keping-keping uang perak. (Matius 26:14-16)

Belajar melalui sejarah yang tertulis di dalam firman Tuhan, terutama melihat konsekuensi tragis yang harus ditanggung oleh murid tersebut (Kisah Para Rasul 1:16-20), tentu kita tidak ingin diasosiasikan dengan perbuatan-perbuatannya! Lagi pula, … terus terang saja, siapakah yang mau disetarakan dengan pribadi Yudas Iskariot, dan dijuluki sebagai ‘orang-orang Kristen yang serakah masakini’?

Sampai sekarang kami masih terus menerima surat-surat permohonan sumbangan dari salah seorang televangelist termasyhur di dunia yang pernah kami dukung pelayanannya, ... kurang lebih 8 tahun lamanya.

Berbeda sekali dengan keberhasilan pelayanan Bunda Theresa di kota Kalkuta, India yang amat sederhana dan prihatin untuk orang-orang miskin berpenyakit kusta yang sudah diabaikan negara itu, masyarakat dunia mengenal dia sebagai seorang penginjil antarbangsa yang sukses, yang hidup mewah penuh kelimpahan.

Penyajian acara-acara televisinya sangat modern, dibuat di dalam studio-studio yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan yang canggih sekali. Bangunan besar di mana kegiatan-kegiatan itu direkam dan dirakit, dibeli olehnya menggunakan dana sumbangan uang berjuta-juta dolar, yang dikumpulkan dari para partners-nya dan juga penggemar-penggemar pelayanannya yang tersebar di seluruh dunia. Proses yang sama juga berhasil dilakukan ketika ia berniat untuk membeli sebuah pesawat udara pribadi untuk meningkatkan taraf pelayanan nasionalnya di Amerika.

Karena sering mengikuti acara-acaranya, saya tahu, bahwa Kristus dan kuasa Roh Kudus selalu menjadi pusat setiap pelayanannya. Tetapi selain itu mau tak mau saya juga bisa menarik kesimpulan, bahwa … ajaran-ajarannya selalu berkisar pada berkat (kekayaan) dan kemakmuran hidup umat Tuhan, terutama partners dan para pemirsa kristiani lainnya yang bersedia membantu dia di bidang keuangan untuk mendukung pelayanannya yang bersifat internasional tersebut.

Karena sudah terlanjur tertera di dalam database mereka, sekalipun kami telah mengundurkan diri bertahun-tahun lamanya, sampai sekarang kami masih terus dihubungi secara rutin. Seperti biasa, surat-suratnya selalu berisi janji-janji berkat (kekayaan) yang akan dicurahkan atas kami, jika kami mau membantu dia dan timnya menutupi defisit keuangan mereka yang terjadi hampir setiap akhir tahun pembukuan.

Menurut dia, kami akan diberkati dan menjadi bebas dari akibat keterpurukan ekonomi dunia (Global Financial Crisis), jika kami bersedia membantu pekerjaan Tuhan melalui pelayanannya itu. Sering kali menggunakan ayat yang sudah dibahas di atas sebelumnya, Lukas 6:38, ia menjanjikan, bahwa semakin besar jumlah uang sumbangan kami untuk pelayanannya, semakin besar (berlipat-lipat ganda) janji-janji berkat (material) yang akan dicurahkan oleh Tuhan atas kami. Ironisnya, pada mulanya ia sendiri mengalami defisit keuangan gara-gara musibah tersebut, yang sudah mengakibatkan banyak sekali pendukung-pendukung pelayanannya kehilangan mata pencaharian mereka.

Saya ingat sekali akan pernyataannya sendiri, bahwa apabila kami meragukan ajaran yang ia berikan, kami dianjurkan untuk membandingkannya dengan isi firman Tuhan. Dan jika ternyata maknanya berbeda, kami harus percaya pada alkitab, … bukan dia. Sungguh suatu pernyataan yang patut sekali dikagumi!

Beberapa tahun yang lalu, tidak lama sesudah GFC, di antara kiriman-kiriman korespondensinya yang datang secara teratur, kami menerima sepucuk surat yang isinya cukup mengejutkan! Karena desperate sekali, di situ ia menganjurkan menggunakan alasan-alasan yang amat ‘menggelikan’, agar para partners-nya memberikan perpuluhan hak gereja lokal mereka kepada dia dan pelayanannya. Terpana saat membacanya, tahu bahwa hal itu sama sekali tidak alkitabiah, kami langsung mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan kami dengan pelayanannya.

Kami menyadari, bahwa masih ada banyak sekali pelayanan hamba-hamba Tuhan lainnya di dunia, yang hidup secara sederhana, tetapi selalu mendahulukan kepentingan orang-orang yang mereka layani. Yang tidak menggunakan dana sumbangan orang-orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi terlebih dahulu, atau untuk menutupi ongkos-ongkos pelayanan yang tidak perlu sama sekali.

Membandingkan pelayanan Kristus dengan pelayanan hamba Tuhan tersebut sekarang, kami bisa langsung menyaksikan kekontrasannya. Karena itu mudah sekali bagi kami untuk menarik kesimpulan, … ajaran siapakah yang harus kami ikuti!

Pelayanan-pelayanan sederhana tapi berarti sekali, yang mempunyai pengaruh sebesar pelayanan Bunda Teresa semasa hidupnya, … itulah yang seharusnya didukung dan ditanggung bersama oleh orang-orang Kristen, agar kabar keselamatan dan juga kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, bisa diberitakan ke seluruh penjuru bumi.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20)

(Bersambung)

HIDUP YANG ‘DIBERKATI’ (4)

BERKAT-BERKAT SORGAWI

Friday, October 28, 2011

Hidup yang ‘Diberkati’ (2)


Oleh: John Adisubrata

INJIL KEMAKMURAN

Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38)

Ipar saya pernah menceriterakan percakapannya dengan seorang teman di tahun 80-an, yang ingin mempengaruhi dia untuk menggabungkan diri dengan sebuah gereja besar baru di kotanya. Berapi-api ia menceriterakan, bahwa semenjak ia menjadi anggota gereja itu, hidupnya menjadi sangat diberkati. Menurut dia, ‘iman’-nya yang besar menyebabkan semua yang diinginkan olehnya selalu dikabulkan oleh Tuhan. Ia berkata penuh keyakinan: “Enak ikut gereja itu, hidup kita akan selalu diberkati. Apakah engkau tahu, jika kita menumpangkan tangan di atas sebuah mobil Mercedes baru yang mewah di dalam nama Yesus, lalu percaya bahwa dengan iman kita akan memilikinya, Tuhan pasti mengabulkannya. Coba periksa, buktinya ada di dalam alkitab.”

Saya setuju sekali dengan tanggapan jitu kakak ipar saya pada waktu itu: “Kok seperti tidak ada bedanya dengan pergi melawat ke gunung Kawi* saja.”

Tentu yang dimaksudkan oleh temannya adalah ayat-ayat yang diucapkan oleh Kristus, yang tercatat di dalam keempat Injil Perjanjian Baru, seperti yang diceriterakan kembali oleh Matius: “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22) Atau ayat yang ditulis oleh Markus di dalam Injilnya: ‘Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya! (Markus 9:23)

Dan yang paling sering dipakai sebagai landasan argumentasi mengapa orang-orang kristiani seperti dia menyetujui ajaran Injil Kemakmuran: ‘Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” (Matius 9:29)

Apakah benar ayat-ayat tersebut mempunyai makna seperti yang ditafsirkan olehnya? Apakah seluruh keinginan orang-orang percaya yang diucapkan (diperintahkan!) dengan iman di dalam nama Yesus, juga pasti akan dikabulkan oleh Tuhan, seperti … harta kekayaan, kesehatan tubuh, kesembuhan dari penyakit, kebahagiaan hidup, dan lain-lainnya? Apakah benar, semua itu pasti akan terjadi sesuai dengan iman kita?

Pengertian kata berkat berdasarkan iman semacam itu memang sudah beredar di mana-mana, dan sudah di-‘iman’-i oleh para pengikut aliran-aliran ‘kristiani’ tertentu sebagai kebenaran yang mutlak. Kekayaan materiil atau kesuksesan finansiil, baik keluarga maupun bisnis, adalah tema-tema utama ajaran-ajaran gembala-gembala mereka. Penuh keyakinan mereka percaya, bahwa dengan iman berkat-berkat tersebut bisa dicapai oleh semua orang-orang Kristen, apabila mereka taat pada firman Tuhan.

Terus terang saja, siapakah yang tidak ingin menjadi kaya raya dan diberkati? Saya yakin semua orang mau, ... termasuk saya! Tetapi ajaran-ajaran seperti itu seolah-olah memantau orang-orang percaya agar mereka menjadi tamak dan materialistis, yang memandang agama Kristen sebagai sumber bisnis yang bisa menguntungkan diri sendiri. Bahkan Tuhan diperlakukan seperti ‘jin dalam botol’ yang baik hati, yang mau menuruti segala ‘permintaan’ (perintah-perintah!) mereka. Seakan-akan sebagai ganti ketaatan, kesetiaan dan perbuatan-perbuatan baik yang sudah mereka lakukan, Tuhan bisa dimanipulasi dengan seenaknya.

Mereka memandang Roh Kudus sebagai kuasa yang dapat diperalat setiap waktu oleh orang-orang percaya. Padahal apabila kita menyelidikinya dengan lebih cermat lagi, alkitab sebenarnya mengajarkan kebalikannya: Roh Kudus-lah yang memampukan umat-Nya, sehingga mereka bisa melaksanakan kehendak-kehendak Tuhan.

Sekalipun tidak semua, banyak dari televangelists (penginjil-penginjil melalui televisi) yang termasyhur di dunia bertanggung jawab atas kepesatan meluasnya pengertian yang tidak alkitabiah tersebut. Kebanyakan mereka adalah penginjil-penginjil yang berasal dari Amerika Serikat. Saya sering menyaksikan mereka di TV memaksakan pandangan mereka menggunakan pengertian iman yang dicomot ke luar secara sembarangan sekali dari dalam alkitab.

Biasanya motto iman mereka bisa diterjemahkan seperti ini: percaya kepada iman, atau: percaya, karena beriman pada iman! Sekalipun mereka berkata, bahwa mereka adalah hamba-hamba Kristus, jelas motto yang tidak alkitabiah itu menunjukkan, bahwa mereka mengandalkan iman yang percaya pada ‘keampuhan’ iman kristiani mereka sendiri. Dan bukan bersandar 100% pada kebesaran Tuhan dan kebenaran firman-Nya!

Salah satu contoh mengenai ayat-ayat yang paling dikenal orang-orang kristiani, yang sering secara sembarangan dicomot begitu saja dan dipakai di luar pengertian message yang sebenarnya, adalah ayat yang dicatat di dalam Injil Lukas: Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38)

Sering kali saya mendengar ayat tersebut dipergunakan oleh hamba-hamba Tuhan pada saat-saat kolekte atau pengumpulan dana di gereja-gereja (atau melalui acara-acara TV kristiani), sebagai cara untuk memberi semangat atau menantang iman anggota jemaat (atau para pemirsa di rumah) agar mereka meningkatkan jumlah uang persembahan, bahkan ... perpuluhan mereka. Tidak jarang terdengar seolah-olah memantau ketamakan hati manusia, karena menjanjikan berkat berlipat-lipat ganda yang akan dikaruniakan oleh Tuhan sebagai ‘upah’ atas ‘ketaatan’ mereka terhadap firman-Nya!

Padahal ketika Tuhan Yesus mengajarkannya, Ia bukan membahas hal ‘memberi’, melainkan hal ‘menghakimi’ (Lukas 6:37-42). Perhatikanlah ayat 37 yang mengawalinya: “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” Dari ayat 37 sampai 42, Ia sebenarnya memperbincangkan tingkah laku umat manusia yang selalu condong untuk membabi buta menghakimi orang-orang lain tanpa bisa melihat kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa mereka sendiri.

Ia memperingatkan, bahwa ukuran yang mereka pergunakan untuk menghakimi sesamanya akan diukurkan kembali kepada mereka, bahkan akan ditambahkan secara berlimpah-limpah.

Jadi pada waktu itu Yesus bukan berbicara mengenai ‘berkat’ (harta kekayaan) yang akan kita terima, jika kita memberikan persembahan atau sumbangan kepada hamba-hamba Tuhan serta pelayanan-pelayanan mereka, melainkan ‘pembalasan’ (besar) yang pasti akan terjadi di luar pengharapan kita, jika kita masih berani menghakimi sesama kita!

Saya yakin, semua orang kristiani yang sudah lahir baru pernah mendengar Lukas 6:38, dan juga ayat-ayat lainnya yang sering dicomot ke luar begitu saja dari makna konteks yang sebenarnya, dipergunakan oleh hamba-hamba Tuhan di gereja atau melalui acara-acara TV kristiani sebagai ayat penghimbau untuk mengumpulkan uang kolekte, atau sumbangan dana guna mendukung program-program mereka di bidang pembangunan, misi, Pekabaran Injil dan lain sebagainya.

Sekalipun tidak jarang ada ayat-ayat tertentu yang dipakai oleh Tuhan sebagai ‘firman’ (rhema) untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada kita secara pribadi, makna firman tersebut pasti tidak akan bertentangan dengan dasar ajaran-ajaran-Nya yang lain. Tidak mungkin Yesus merestui sikap orang-orang yang ingin mendukung pekerjaan Tuhan, tetapi belum apa-apa sudah menuntut pahala-pahala mereka berdasarkan keserakahan dan egoisme, hanya oleh karena mereka ingin menjadi kaya, atau lebih gawat lagi: … mau memperkaya diri sendiri! Karena terbukti melalui ayat-ayat alkitab lainnya jelas dinyatakan, bahwa Ia menentang dan membenci ketamakan hati manusia.

‘Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Lukas 12:15)

* Gunung Kawi dikenal di Jawa Timur sebagai sebuah gunung keramat, yang didiami oleh roh-roh yang ‘bermurah hati’. Biasanya orang-orang yang menginginkan kekayaan dan kesuksesan hidup pergi melawat ke sana dengan harapan bisa mendapatkan ‘berkat’ itu dari mereka.

(Bersambung)

HIDUP YANG ‘DIBERKATI’ (3)

MAKMUR ‘MELAYANI’

Friday, October 21, 2011

Hidup yang ‘Diberkati’ (1)


Oleh: John Adisubrata

BERKAT-BERKAT DUNIAWI

Berkat TUHAN-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Amsal 10:22)

Suatu malam di hari Jum’at kurang-lebih dua/tiga tahun yang lalu, setelah membahas bersama isi firman Tuhan, sebagai penutup acara sel, pemimpin kami menantang beberapa pengunjung yang sudah sering datang, tetapi masih belum menjadi pengikut Kristus untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Seperti biasa, dengan dukungan doa, dan juga dukungan moril para anggota sel yang hadir lainnya, ia berusaha untuk meyakinkan ketiga orang tersebut.

Sebenarnya itu bukan kesempatan yang pertama. Pernah sekali beberapa minggu sebelumnya, saat ditantang, seorang di antaranya nyaris diselamatkan. Sayang sekali, oleh karena masih merasa gentar untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan hidup yang lama, ia menolak tawaran tersebut. Padahal dengan jujur ia mengakui, bahwa saat itu ada ‘sesuatu’ yang terjadi di dalam dirinya, yang menyebabkan isi hatinya bergejolak secara mengherankan. Tentu saja karena pernah mengalaminya sendiri, kami menyadari, bahwa itu adalah pekerjaan Roh Kudus!

Berbeda dengan kegagalan-kegagalan seperti itu, yang biasanya selalu disebabkan oleh karena persepsi masyarakat yang keliru, yaitu bahwa orang-orang kristiani hidupnya terkekang dan tidak bebas, malam itu gara-gara sebuah pertanyaan yang diajukan oleh pemimpin sel kami, saat ditantang salah seorang di antara mereka merasa tersinggung sekali dan menjadi marah.

Di antara beberapa pernyataan mengenai Kristus dan apa yang telah dilakukan oleh-Nya untuk umat yang mau percaya kepada-Nya, ia menambahkan sebuah pertanyaan: “Apakah kalian tidak ingin menjadi orang-orang yang hidupnya diberkati?”

Kami yakin pertanyaan itu cukup beralasan dan diajukan tanpa maksud untuk menyinggung perasaan siapa pun juga. Tetapi oleh karena kata ‘berkat’ mempunyai arti yang berbeda-beda bagi telinga setiap orang yang mendengarnya, baik orang-orang Kristen maupun bukan, langsung saja wanita yang sudah sering hadir di sana bersama suaminya oleh karena undangan sahabat-sahabat mereka yang adalah anggota-anggota sel kami, menjawab dengan nada kurang senang sekali: “Siapa bilang aku tidak diberkati? Hidupku sangat diberkati!”

Kata berkat memang mempunyai makna yang sangat luas, terutama jika diartikan di dalam bahasa Inggris sesuai penggunaannya, seperti: bless, blessed atau blessing. Di antara berberapa arti-arti yang lain, Dictionary.com menjelaskan kata ‘blessing’ seperti ini: “A favor or gift bestowed by God, thereby bringing happiness.” Terjemahan bebasnya adalah: Kemurahan atau hadiah yang dilimpahkan oleh Tuhan, yang membawa kebahagiaan.”

Berkat mempunyai hubungan yang erat sekali dengan kasih Tuhan, kasih karunia-Nya, serta kemurahan hati-Nya. Karena sebenarnya berkat selalu berasal dari sorga! Menurut firman Tuhan, hikmat-lah yang mengawalinya! Tanpa hikmat, pengetahuan akan keberadaan Tuhan serta firman-Nya tidak ada pada kita. Tanpa pengetahuan itu, kita tidak akan merasa takut terhadap kebesaran dan kuasa-Nya. Tanpa rasa takut itu, kita akan merasa enggan untuk mempelajari firman-Nya. Akibatnya, kita tidak tahu tujuan hidup kita di dunia, sehingga kita tidak mampu untuk melihat dan menikmati ‘berkat-berkat’ yang membawa kebahagiaan, yang dicurahkan oleh-Nya kepada kita.

Raja Salomo membahas hal tersebut dengan jelas sekali melalui berpuluh-puluh ayat di dalam kitab Amsal dengan memulainya menggunakan ayat yang amat penting ini: Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” (Amsal 1:7)

Sedangkan menurut pandangan umum (masyarakat pada umumnya), berkat selalu dikaitkan dengan harta kekayaan manusia. Semakin berada keadaan seseorang, semakin besar berkat yang dipunyainya. Tentu saja kekayaan juga termasuk di dalam anugerah-anugerah berkat yang Tuhan berikan kepada umat kristiani, tetapi itu hanya sebagian kecil saja di antara banyak sekali berkat-berkat lainnya.

Suami wanita itu, seorang yang amat berbakat di bidang seni musik, adalah penyebab utama mengapa ia ikut hadir di sana hampir setiap hari Jum’at malam. Ia ingin membantu selgrup kami dengan bermain instrumen mengiringi kami saat puji dan sembah. Sekalipun mereka adalah (mantan) orang-orang beragama Budha yang kami simpulkan sekarang sudah menjadi simpatisan-simpatisan kelogisan pandangan hidup ‘agama’ populer masakini, The New Age Movement, tampak sekali bahwa mereka mempunyai pandangan yang amat luas mengenai kepercayaan-kepercayaan lainnya di dunia, termasuk ajaran-ajaran Kristus.

Jelas sekali malam itu, sebagai seorang intelektuil yang tidak kekurangan apa-apa, yang hidup sehat dan berkeluarga harmonis, arti kata berkat langsung diasosiasikan olehnya dengan kondisi kehidupannya sendiri. Ia adalah seorang wanita yang sangat mengandalkan kecerdikan otak dan pendidikannya yang tinggi, … yang merasa bangga sekali akan hal itu. Dugaan saya, ia menjadi tersinggung, oleh karena merasa hidupnya jauh lebih ‘beruntung’ dibandingkan dengan kehidupan pemimpin sel kami yang tidak lama sebelumnya mengalami beberapa musibah secara berturut-turut, baik di bidang bisnis maupun kesehatan anggota keluarganya.

Saya kurang ingat akan detil kelanjutan diskusi yang terjadi, di mana mau tak mau kami semua akhirnya juga ikut terlibat di dalamnya. Tetapi yang pasti, suasana malam tersebut menjadi sangat tidak enak. Sampai pertemuan itu berakhir ia tetap berpendapat, bahwa ia tidak perlu menjadi pengikut Kristus untuk ‘mengejar’ berkat, sebab ia sudah lama mempunyainya! Tentu saja oleh karena arti kata itu dipandang dari dua sudut yang berbeda sekali.

Tetapi saya bisa memahami pendapatnya, karena memang tidak jarang orang-orang kristiani sendiri pun menyalah-gunakan makna kata tersebut! Gerakan Prosperity Gospel (Injil Kemakmuran) di tahun 70-an adalah penyebab utama tersebarnya pengertian (baru) yang keliru, yang amat menjurus pada pandangan-pandangan duniawi masyarakat umum.

Mereka memberitakan, bahwa orang-orang Kristen mempunyai kepastian untuk selalu hidup diberkati, ... hidup tanpa masalah, penuh kedamaian, bebas penyakit, dan terutama, … kaya-raya! Semua itu adalah hak orang-orang percaya! Sehingga menurut mereka, jika ada orang-orang kristiani lainnya yang hidupnya tidak memancarkan kesuksesan-kesuksesan seperti itu, kebenaran iman mereka patut diragukan. Apalagi jika kesehatan tubuh mereka sedang terganggu! Yang terserang penyakit fatal biasanya dituduh … masih hidup di dalam dosa. Siapakah yang tidak pernah bertemu atau bersekutu dengan orang-orang ‘super kristiani’ semacam itu?

Patokan-patokan pandangan mereka selalu berdasarkan contoh-contoh kemakmuran hidup tokoh-tokoh alkitab pilihan Tuhan yang dilukiskan di dalam Perjanjian Lama, seperti Abraham, Ishak, Yakub dan Yusuf, begitu juga generasi-generasi mereka yang berikutnya. Kitab Kejadian menyatakan: “Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.” (Kejadian 13:2)

Tak terlupakan, Ayub, tokoh yang dikenal sebagai “… orang yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.” (Ayub 1:3c) Bahkan kekayaan raja Salomo di zaman dahulu, yang jelas bukan kekayaan biasa-biasa saja, dijadikan standar oleh mereka untuk kita, … umat (pilihan) Tuhan masakini! Kitab 1 Raja-Raja melukiskan kemakmuran hidupnya seperti ini: “Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat.” (1 Raja-Raja 10:23)

Tetapi tokoh-tokoh lainnya yang tidak memenuhi syarat-syarat itu jarang sekali disebut oleh mereka. Apalagi yang hidupnya selalu diliputi oleh penderitaan, seperti yang dialami oleh Yeremia, Hosea, Stefanus (Kisah Para Rasul 6-7) dan lain sebagainya.

Tidaklah mengherankan jika sebagai akibatnya, terpengaruh oleh ajaran-ajaran seperti itu banyak orang pergi ke gereja bukan untuk beribadah, agar bisa bersama umat kristiani lainnya mengasihi, memuji dan menyembah Tuhan dengan sepenuh hati, tetapi karena terdorong oleh motivasi-motivasi egois, yaitu untuk mengejar kesuksesan hidup dan harta kekayaan yang semuanya bersifat sementara serta duniawi sekali!

“Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal.” (Kejadian 24:1)

(Bersambung)

HIDUP YANG ‘DIBERKATI’ (2)

INJIL KEMAKMURAN

Friday, September 3, 2010

Dosa-Dosa Rahasia (4)


Oleh: John Adisubrata

CONFIDE IN HIM!

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23)

Ditujukan kepada semua orang kristiani, alkitab memperingatkan: Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” (1 Yohanes 3:9) Melalui suratnya rasul Paulus juga menasihati jemaat di Korintus: Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17)

Kedua ayat tersebut mengingatkan, bahwa sebagai umat yang sudah diselamatkan, kita dituntut untuk selalu (berusaha!) hidup kudus, karena semenjak saat perubahan penting itu terjadi, kita adalah umat ciptaan yang baru di dalam Kristus. Kendatipun demikian, sekalipun dinyatakan bahwa kita sudah disisihkan dari ‘dunia’, sedari awal kita tetap diciptakan sebagai makhluk-makhluk yang diberi kebebasan untuk memilih!

Itulah sebabnya, apabila kita tidak bersandar sepenuhnya pada firman Tuhan, setiap kali Iblis mengiming-imingkan kekuasaan, kehormatan, kekayaan, maupun kesempatan untuk memuaskan nafsu seksuil kita, biasanya tanpa mempertimbangkan lagi harga amat mahal yang akhirnya harus dibayar, kita sudah tertipu olehnya. Dan sebelum menyadarinya sendiri, kita sudah ‘terjun’ ke dalam lumpur dosa, ... melaksanakan kehendaknya. Tidaklah mengherankan, banyak orang (kristiani) yang ‘jatuh’, ... terjebak oleh kelihayan tipu muslihatnya.

Alkitab-lah satu-satunya sumber kebijaksanaan yang (harus) menjadi pedoman hidup kita. Apabila kita mau mempelajarinya dengan tekun, dan terutama ... mempraktekkannya, pada saat kita menghadapi godaan-godaan seperti itu, kita dikaruniai kekuatan adikodrati untuk bisa membedakan mana yang benar dan apa yang salah! Kitab Ibrani mengatakan: Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12)

Yesus sendiri sudah membuktikan, bahwa firman Tuhan adalah senjata paling ampuh di dalam menghadapi godaan-godaan Iblis. (Efesus 6:11) Ketika dicobai di padang gurun, seperti kita sekarang, Ia juga harus memilih dan memberi keputusan! Injil mencatat, bahwa setiap jawaban yang Ia berikan selalu diawali dengan ungkapan: Ada tertulis, …” (Lukas 4:1-13)

Sejujurnya saja, siapakah yang tidak ingin melupakan ‘masa lampau’ mereka? Baik hal-hal ‘memalukan’ yang pernah terjadi, maupun hasrat di dalam hati yang kita pendam seumur hidup tanpa keberanian untuk melakukannya. Atau, keinginan untuk mengakhiri kebiasaan-kebiasaan yang sampai sekarang dengan penuh kesadaran masih kita lakukan secara sembunyi-sembunyi, sekalipun kita tahu itu adalah perbuatan dosa.

Alkitab menganjurkan, agar kita saling mengakui dan saling mendoakan. (Yakobus 5:16) Selain itu, seperti pengakuan dosa raja Daud yang dicatat di Mazmur 51, Tuhan juga ingin agar kita selalu berterus-terang kepada-Nya, mengakui segala kesalahan, kejahatan dan perbuatan-perbuatan dosa yang (pernah) kita lakukan.

Menyadari kemutlakan kuasa Tuhan, raja Daud berkata: “Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu.” (Mazmur 69:6) Ia juga mengagumi kemaha-tahuan-Nya: “Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.” (Mazmur 139:4) Bagi dosa-dosa masa lampaunya ia bermazmur: Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.” (Mazmur 25:7-8)

Dan ... bersyukur sekali akan pengampunan Tuhan, raja Daud berkata: ‘Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela’ (Mazmur 32:5)

Bukankah Yesus pernah berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28) Oleh karena kasih karunia-Nya, apapun yang pernah atau sedang kita lakukan, ... tak terkecualikan, pasti akan diampuni oleh-Nya, jika kita dengan sungguh-sungguh mau mengakuinya. Tetapi selain itu, seperti yang tertulis di 1 Yohanes 3:9 dan 2 Korintus 5:17, adalah tanggung jawab kita sendiri untuk menjaga, agar kita tidak memberi kesempatan kepada Iblis untuk menggoda dan menipu diri kita lagi. Rasul Paulus menulis: “ ... dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:27)

Seorang pendeta mengutarakan hasrat hatinya untuk mengubah taman di depan rumahnya menjadi sebuah lingkungan yang menarik bagi burung-burung liar di daerahnya. Tetangganya menganjurkan agar ia memperlengkapinya dengan rumah-rumahan, tempat minum/mandi untuk burung, dan juga menyediakan makanan-makanan kesukaan mereka. Setelah menuruti nasihat tetangganya, dalam waktu sekejab suasana taman itu menjadi berubah sekali. Berbagai jenis burung mulai berdatangan dan singgah di sana. Tampaknya mereka menjadi kerasan sekali tinggal dan bermain-main di halaman depan rumahnya. Memakainya sebagai sebuah ilustrasi yang relevan, pendeta itu berkata, bahwa seringkali tanpa sadar kita juga melakukan hal yang serupa. Kita memberi kesempatan kepada Iblis dengan menciptakan sebuah lingkungan di dalam kehidupan kita di mana ia merasa welcome sekali untuk menetap.

Raja Daud pernah menciptakan lingkungan seperti itu ketika ia bermalas-malasan seorang diri di atas balkon istananya, pada saat seluruh perwira dan tentaranya sedang pergi berjuang di medan perang. Terpikat oleh tipuan Iblis, ... dibara oleh nafsu ‘kejantanan’-nya, akhirnya ia menjadi lupa daratan dan jatuh di dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba! (2 Samuel 11) Tindakan yang awalnya ia lakukan tanpa sadar itu, tidak berbeda jauh dengan tindakan-tindakan rahasia yang kita kerjakan sekarang. Pada saat kita membaca atau menonton bahan-bahan yang bersifat porno, seorang diri di dalam kamar yang tertutup, dengan sukarela kita sudah membiarkan Iblis masuk ke dalam kehidupan kita. Itulah awal mula terciptanya dosa-dosa rahasia yang biasanya tidak akan berakhir di situ begitu saja, melainkan akan berkembang terus menjadi dosa-dosa yang lebih besar!

Apabila oleh karena situasi yang tak terduga, kita telah terlanjur membiarkan Iblis menduduki tempat di dalam kehidupan kita, alkitab berkata, bahwa Tuhan sudah memberi kuasa kepada umat-Nya untuk merebutnya kembali! Pertama-tama: dengan iman: “... sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yohanes 5:4) Iman-lah yang membuat kuasa itu dianugerahkan kepada kita untuk memenangkan peperangan rohani yang kita hadapi sehari-hari. Kedua: dengan iman kita melawannya: “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yakobus 4:7) Kuasa firman Tuhan, di dalam nama Yesus, pasti akan membawa kemenangan bagi kita! Tetapi di samping itu, yang harus mempunyai keinginan untuk mengubah sikap hidup serta menjaga kekudusan diri adalah kita sendiri.

Rasul Paulus menasihati jemaat di Filipi: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8) Maksudnya, dari pada kita membuang waktu memikirkan hal-hal sementara yang tidak ada gunanya, yang bisa menyebabkan terciptanya dosa-dosa rahasia, ia menganjurkan agar kita memikirkan hal-hal sorgawi, yang kekal, ... yang bermanfaat bagi kehidupan kita. (Kolose 3:2) Ia menganjurkan, agar kita selalu hidup di dalam Roh: “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” (Galatia 5:16-17)

Seperti yang sudah disinggung di awal artikel ini, setiap orang, termasuk saya, pasti menyembunyikan paling sedikit sebuah dosa rahasia, yang mungkin terjadi di masa lampau atau sampai sekarang masih tetap dilakukan secara diam-diam. Bagi yang mau bertobat, sekalipun awalnya diprakarsai dan ditawarkan oleh Tuhan, kesuksesannya mutlak berada di tangan kita. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali mengabaikan perkataan Yesus kepada wanita yang tertangkap basah sedang berzinah di suatu siang hari bolong, setelah para pendakwanya yang bermaksud merajam dia pergi meninggalkan: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:11)

Perintah itu masih berlaku sampai sekarang bagi semua orang yang bersedia meninggalkan ‘dosa-dosa rahasia’ mereka untuk selama-lamanya, yang mau berjanji untuk selalu mengikuti langkah-langkah-Nya sampai saat kedatangan-Nya kembali untuk kedua kalinya. Haleluya!

Terpujilah nama Tuhan untuk selama-lamanya. Amin!

John Adisubrata
September 2010

Thursday, August 5, 2010

Dosa-Dosa Rahasia (3)


Oleh: John Adisubrata

TRAIN OF THOUGHTS

“Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.” (Matius 5:30)

Sekali lagi, ... selain ada banyak sekali macam dosa yang dirahasiakan oleh setiap orang, baik orang-orang kristiani maupun tidak, sebenarnya hanya ada dua kategori saja yang merangkum semuanya, yaitu: Perbuatan dosa yang pernah terjadi di masa lampau, dan perbuatan dosa yang dengan penuh kesadaran masih dilakukan sekarang. Keduanya bisa terjadi dengan sengaja maupun tidak.

Sengaja dalam arti: “Dari awalnya menyadari kenyataan dosa itu serta akibat-akibatnya, tetapi tetap melakukannya tanpa merasa gentar.”

Tidak sengaja dalam arti: “Dari awalnya menyadari kenyataan dosa itu serta akibat-akibatnya, tetapi walaupun sebenarnya tidak berhasrat, gara-gara emosi yang ‘membara’, menjadi lupa daratan dan akhirnya melakukannya dengan konsekuensi yang tidak jarang ditanggung seumur hidup, baik oleh diri sendiri maupun orang-orang lain.”

Seperti contoh-contoh yang sudah diuraikan sebelumnya, kendatipun tidak 100%, hampir semuanya adalah dosa-dosa seksuil, atau paling sedikit mempunyai kaitan erat dengan tema itu. Awalnya selalu terjadi di ‘alam fantasi seksuil’ seseorang, ... di setiap generasi, terutama yang masih muda belia, alam di mana khayalan-khayalan yang menyesatkan, lamunan-lamunan yang menyimpang, hasrat dan idaman hati setiap orang sudah tidak sesuai lagi dengan kenyataan hidup yang sebenarnya. Karena di sanalah Iblis berusaha untuk mempengaruhi umat manusia dengan menyelewengkan tujuan makna seks karunia Tuhan yang sebenarnya! Memakai ‘kaki-tangan’-nya di dunia, melalui seluruh media yang sedang populer setiap masa, ia menyebarkannya dengan gencar untuk meracuni benak pikiran korban-korbannya, dari yang berbentuk softcore sampai hardcore pornography. Semua itu telah diterima oleh masyarakat sebagai suatu hal yang cukup ‘normal’ di akhir zaman ini. Iblis tahu, jika kita bisa dipengaruhi olehnya di bidang itu, kita sudah menjadi miliknya!

Melalui suratnya, rasul Paulus memperingati jemaat di Efesus: “…, karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:12)

Selain alam roh, arena yang dimaksudkan oleh rasul Paulus di mana aktivitas-aktivitas semacam itu bisa terjadi, adalah alam pikiran kita sendiri. Di sanalah dosa-dosa rahasia manusia dimulai. Pada saat itu menjadi kenyataan, di luar kesadaran sendiri, kita sudah memindahkannya ke dalam hati kita, suatu arena lain di mana dosa-dosa seperti itu disimpan dan disembunyikan.

Kata dosa menurut definisi kamus alkitab mempunyai arti seperti ini: “Tindakan manusia secara perorangan ataupun secara bersama-sama yang menyimpang dari kehendak dan hukum Allah”. Di sini kata ‘menyimpang’ adalah sinonim kata ‘memberontak’, karena bagi Tuhan setiap sikap yang menentang Dia atau hukum-Nya adalah tindakan yang pasti memisahkan diri kita dari hadirat-Nya yang maha kudus.

Menolak atau meremehkan Tuhan, memperkosa atau membunuh seseorang, menggertak, menyalah-gunakan kekuasaan atau menganiaya jiwa (bullying) orang-orang yang lebih lemah, berzinah, mencuri, bergosip ria dan juga berbohong adalah tindakan-tindakan dosa. Dosa adalah dosa, karena memang tidak ada yang bisa dikategorikan sebagai dosa hitam atau dosa putih, dosa besar atau dosa kecil. Segala sesuatu yang menentang hukum Allah adalah dosa, apapun tujuan dan motifnya. Secara default, para ‘pemberontak’ itu sudah berada di pihak Iblis.

Setiap orang, beriman atau tidak, akan dihantui oleh kenyataan, bahwa dosa-dosa rahasia mereka akan selalu melekat di dalam ingatan. Apakah itu aborsi, masturbasi, kecanduan pornografi, homoseksualitas, paedophilia, atau perzinahan, pelacuran, pembunuhan, dan lain sebagainya. Sekalipun kita berusaha keras untuk melupakannya, Iblis tidak akan tinggal diam, karena ia mau memastikan, bahwa semua itu selalu segar di dalam ingatan kita. Apabila kita sudah terlanjur ‘jatuh’, ia juga akan memastikan, bahwa kita tetap terbelenggu oleh dosa-dosa tersebut.

Iblis dijuluki di dalam alkitab sebagai ‘pendakwa’ umat Tuhan. (Wahyu 12:10) Mengenal dosa-dosa rahasia setiap orang, dia-lah penanam ide-ide jahat tersebut di dalam pikiran kita. (Matius 13:25,39a) Tetapi kemudian dengan licik sekali, ia memutar-balik dengan menuduh, bahwa kitalah yang memulai pikiran-pikiran itu, ... kitalah yang menginginkannya. Apalagi ... jika kita sudah terlanjur melakukannya! Iblislah yang menjadi penyebab umat manusia selalu merasa bersalah, malu dan tidak berharga. Ia-lah yang menjadi penyebab kita tak henti-hentinya merasa menyesal.

Sebagai umat yang percaya, kita mempunyai dua pilihan: Menyerah dan menerima godaan-godaan Iblis tersebut begitu saja, terus membayangkan dan ‘menikmati’-nya, atau ... dengan menggunakan kuasa firman Tuhan, kita menghardiknya pergi! Karena jika kita tidak segera bertindak, akhirnya ia akan menguasai dan mendominasi hidup kita.

Itulah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus ketika Ia memperingati para pengikut-Nya: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Matius 5:28)

Jadi jika sebelumnya, di zaman Perjanjian Lama, yang dikategorikan sebagai tindakan-tindakan dosa adalah actions (yang dilakukan), semenjak zaman Tuhan Yesus, ... hanya memikirkan saja (thoughts), kita sudah melakukannya! Iblis-lah yang menanam benih-benih jahat itu. Selama tetap dalam bentuk sebutir bibit (memandang), itu belum dosa. Tetapi pada saat benih tersebut mulai bersemi (menginginkan/membayangkan), sekalipun perzinahan belum terjadi (melakukan), hal itu sudah dikategorikan oleh-Nya sebagai dosa, karena sebenarnya kita sudah menikmatinya!

Jelas sekali, masturbasi adalah suatu tindakan dosa rahasia yang sekaligus merangkum ketiga-tiganya: memandang, menginginkan/membayangkan dan melakukannya!

Sekalipun tema ini tidak pernah dibahas secara langsung di dalam alkitab, tetapi sesuai hukuman mati yang tertimpa pada Onan, anak Yehuda (Kejadian 38), oleh karena perbuatannya yang menyebabkan namanya sampai sekarang dipergunakan di seluruh dunia untuk melukiskan asal-usul masturbasi (onani), pernyataan Yesus tersebut cukup untuk meneguhkan, bahwa hal yang biasanya dirahasiakan dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi itu adalah tindakan dosa!

Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; ...” (Efesus 6:11)

(Bersambung)

DOSA-DOSA RAHASIA (4)

CONFIDE IN HIM!

Thursday, July 22, 2010

Dosa-Dosa Rahasia (2)


Oleh: John Adisubrata

SEXUAL FANTASIES

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, ...” (Kolose 3:5)

Selain sedari dahulu umat manusia memang pandai sekali menutupi dan menyangkal dosa-dosa rahasia mereka sendiri, bahkan berpura-pura seakan-akan mereka adalah orang-orang maha kudus yang tidak pernah terlibat dengan hal-hal yang bertentangan dengan perintah-perintah Tuhan, biasanya mereka juga selalu berusaha untuk membuktikan ‘kebalikan’-nya. Seolah-olah dengan mengecam tindak tanduk orang-orang lain yang berani mempraktekkan dosa-dosa rahasia yang mereka sembunyikan itu, mereka bisa membentuk ‘alibi’ yang kuat.

Menjelang akhir tahun 2006 sebuah skandal tak terduga telah menggoncangkan masyarakat Kristen di Amerika Serikat, di mana seorang hamba Tuhan sudah tertangkap basah melakukan ‘perbuatan’, yang diketahui oleh umum, bertahun-tahun lamanya justru ditentang dan dihakimi olehnya. Melalui khotbah-khotbah di gerejanya, yang juga ditayangkan melalui televisi, ia dikenal sebagai seorang penginjil yang dengan gencar sekali selalu menyerang dan memerangi gaya hidup kaum gay (homoseksuil) di negaranya.

Bersembunyi di balik tedeng aling-aling tersebut, ternyata akhirnya terbongkar, bahwa kendatipun ia sudah menikah dan berkeluarga, diam-diam lebih dari tiga tahun lamanya secara rutin ia sendiri sudah menjadi pelanggan seorang pelacur laki-laki!

Jadi ... untuk menutupi dan menyembunyikan dosa rahasia tersebut, ia rajin menghakimi orang-orang lain yang berani melakukannya. Sungguh tidak berbeda dengan kemunafikan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi di zaman Perjanjian Baru!

Peristiwa yang serupa terjadi pertengahan bulan Mei 2010 yang lalu, di mana seorang politikus Australia juga telah tertangkap basah melakukan hal yang sama. Diberitakan oleh media nasional, bahwa pria setengah abad yang sudah beristri dan mempunyai keluarga itu berhasil mengelabui mata mereka lebih dari 20 tahun lamanya. Bahkan penduduk daerah yang diwakili olehnya tidak pernah menyadari kelakuannya. Seperti Herman Rockefeller, ia mempraktekkan hidup penuh kemunafikan, ... a double life! Dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang menggagaskan kesejahteraan hidup kekeluargaan yang harmonis, ternyata ia sendiri sudah mengkhianati hal itu bertahun-tahun lamanya. Secara diam-diam, untuk melampiaskan gairahnafsu seksuil yang dirahasiakan olehnya selama itu, ia sering mengunjungi sebuah Gay Club daerah lampu merah kota Sydney dengan harapan untuk bisa menemui seorang yang seminat, yang bersedia menjadi pasangan seksuilnya secara casual.

Ditujukan kepada semua orang, Yesus pernah berkata: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” (Yohanes 12:46) Memang kenyataannya, tidak ada yang bisa disembunyikan di hadapan Tuhan, ... lambat-laun semuanya akan dibongkar oleh-Nya. Kalau tidak sekarang, tentu pada saat penghakiman di akhir zaman! Markus mencatat: “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu rahasia yang tidak akan tersingkap.” (Markus 4:22)

Menjelang akhir November 2009, kebenaran ayat itu digenapi di dalam kehidupan salah seorang golfer terhebat saat ini! Tiger Woods, yang dipromosikan di negaranya, dan juga di dunia, sebagai seorang suami dan ayah yang patut diteladani, berhasil mengejutkan para penggemarnya, bahkan masyarakat umum lainnya yang biasanya tidak pernah tertarik untuk mengikuti perkembangan olahraga tersebut. Di luar dugaannya sendiri rahasia yang tadinya ia sembunyikan begitu rapat bertahun-tahun lamanya dari pengetahuan istri, keluarga dan juga fannya, tiba-tiba terbongkar dan langsung menjadi bahan percakapan terhangat media dunia pada saat itu. Ternyata di balik topeng kealiman yang selalu diperagakan olehnya di depan umum, lelaki jutawan bertampang kalem inipun menyimpan sebuah dosa rahasia! Selama itu ia sudah melibatkan dirinya secara seksuil dengan paling sedikit selusin wanita-wanita cantik, dari yang bertaraf callgirls (pelacur-pelacur panggilan) sampai artis-artis yang pernah membintangi film-film porno!

Belum lama ini saya mengenal seorang pria berusia lanjut yang seumur hidupnya berhasil merahasiakan sebuah peristiwa yang terjadi di masa mudanya. Dikenal sebagai seorang kepala rumah tangga yang baik, seorang ayah yang beriman pada Kristus, sering kali ia dijadikan teladan oleh keluarga-keluarga lainnya. Beberapa hari sebelum ia meninggal dunia, melalui peristiwa tak terduga, terbongkarlah, bahwa ternyata sebelum menikah, ia sudah mempunyai seorang anak dengan wanita lain. Anak-anak kandungnya yang menjadi terpana mendengar dosa rahasianya dilucuti di depan mereka, merasa kecewa sekali. Karena ternyata, kendatipun sebelumnya ayah mereka mempunyai banyak kesempatan untuk menjelaskan hal itu kepada anak-anaknya, ia memilih untuk tetap merahasiakannya.

Sampai saat ini tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengetahui latar belakang kejadian tersebut. Berbagai pertanyaan tak terjawabkan timbul di dalam hati mereka: Siapakah wanita itu? Mengapa setelah mengetahui kehamilannya mereka tidak menikah saja? Apakah yang menyebabkan ia berpisah dengan wanita itu, lalu menikah dengan ibu kandung mereka? Ternyata detil-detil penting yang ketika itu bisa ia bagikan kepada anak-anaknya untuk menolong mereka memahami seluk-beluk terjadinya peristiwa tersebut, dibawa pergi olehnya masuk ke liang kubur untuk selama-lamanya.

Salah seorang anaknya yang ingin sekali memperbaiki kekeliruannya dahulu, berusaha menghubungi kakaknya. Dengan menawarkan jalinan persahabatan, ia ingin memulai suatu era hidup kekeluargaan yang baru bersamanya. Tetapi sayang sekali, upayanya ternyata gagal, karena setelah merasa seumur hidupnya ditolak dan diabaikan oleh ayah mereka, penuh kepahitan kakaknya menolak untuk menanggapi uluran tangannya.

Ternyata perkataan Yesus yang dicatat di Markus 4:22 tersebut tidak hanya berlaku untuk melucuti tindakan-tindakan dosa yang sedang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tetapi juga untuk membongkar peristiwa-peristiwa memalukan yang pernah terjadi di masa lampau seseorang. Di samping itu ada juga dosa-dosa rahasia yang mempunyai konsekuensi seperti yang ditulis oleh rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Roma: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23)

Salah satu peristiwa cukup unik mengenai terbongkarnya sebuah dosa rahasia yang berakhir dengan maut, adalah kisah seorang bekas serial killer dari Amerika Serikat bernama Ted Bundy. Mengaku sebagai seorang yang dibesarkan di dalam keluarga Kristen yang ‘normal’, ia berhasil menyembunyikan perbuatan-perbuatan jahatnya dengan licin sekali. Semua itu diawali oleh sebuah majalah porno yang ia temukan di dalam tong sampah tetangga ketika ia masih berumur 12 tahun. Semenjak saat itu ia diracuni (dirasuki!) oleh roh Iblis yang menyebabkan ketagihannya akan segala sesuatu yang berkaitan dengan pornografy dan sexual fantasies yang sudah tidak sesuai lagi dengan tujuan hubungan seks yang sebenarnya. Ia mengakui, bahwa dengan berlalunya waktu, dosa-dosa rahasianya pun berkembang terus, meningkat ... dari lamunan-lamunan yang awalnya hanya menodai benak pikirannya saja, menjadi tindakan-tindakan keji yang membawa maut pada setiap korbannya.

Karena pandainya berpura-pura, ayah, ibu, saudara-saudara dan keluarga terdekatnya, bahkan teman-teman kuliahnya, tidak pernah menduga, bahwa selama lebih dari 10 tahun terakhir itu ia sudah membantai 28 wanita dengan kejam sekali! Tetapi pada tanggal 24 Januari 1989, tepat jam 7:16 pagi, pembunuh yang menjadi lebih termasyhur lagi gara-gara pertobatan dan kelahiran-barunya, menuai konsekuensi dari dosa-dosa rahasianya, yaitu ... maut! Pagi itu ia dihukum mati di atas kursi listrik penjara. (Baca: D.O.A.: Nyaris Tiada Maaf, bagian 1-4)

“Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.” (Lukas 8:17)

(Bersambung)

DOSA-DOSA RAHASIA (3)

TRAIN OF THOUGHTS

Friday, July 2, 2010

Dosa-Dosa Rahasia (1)


Oleh: John Adisubrata

A DOUBLE LIFE

“Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” (Yohanes 3:19)

Akhir bulan January 2010 semua media di Australia mengabarkan hilang tak berbekasnya seorang konglomerat kota Melbourne, Herman Rockefeller (52 tahun), sepulang dari perjalanan bisnisnya ke luar kota. Diberitakan, bahwa setelah ia meninggalkan Melbourne Airport, tak seorang pun melihatnya lagi. Malam itu pengusahawan yang juga dikenal sebagai seorang jutawan kota itu tidak langsung pulang ke rumah dari bandara seperti biasanya. Kesejahteraannya sangat dikuatirkan, … jangan-jangan suatu hal buruk yang tidak terduga telah terjadi pada dirinya.

Beberapa hari kemudian dengan wajah penuh linangan airmata, istrinya, didampingi oleh adik laki-laki Herman Rockefeller, yang adalah seorang rekan sepengusahanya, tampil di depan kamera, memohon kepada masyarakat, agar siapapun juga yang sempat melihat dia, … di mana saja, untuk segera melaporkan hal itu kepada polisi setempat. Tidak lama sesudahnya mobil yang dikendarai olehnya dari airport berhasil ditemukan, ditinggalkan di tepi jalan raya di pinggir kota. Bersamaan dengan hasil penemuan terakhir itu juga diberitakan, bahwa dua orang tersangka telah ditahan polisi untuk diinterogasi.

Seminggu kemudian gemparlah Australia oleh berita, bahwa pengusahawan yang sukses tersebut, yang dikenal oleh para kerabat dan orang-orang terdekatnya sebagai seorang suami dan ayah yang baik, ternyata menyimpan sebuah ‘dosa rahasia’ yang tidak pernah diketahui oleh keluarganya. Bertahun-tahun lamanya, di luar pengetahuan istrinya sendiri, laki-laki yang tampak alim tersebut ‘menjalani kehidupan ganda’ (lead a double life) secara diam-diam!

Melalui beberapa HPs pribadi yang dirahasiakan olehnya, terbongkarlah, bahwa selama itu ia sudah menjadi anggota ‘Swinger’s Club’ di kotanya, sebuah perkumpulan yang memang dibentuk untuk melayani hasrat seksuil para suami istri yang mempunyai pandangan liberal sekali tentang konstitusi perkawinan di akhir zaman. Klub semacam itu, yang akhir-akhir ini tumbuh dengan subur di kota-kota besar di Australia laksana jamur-jamur liar dimusim hujan, menghimbau para anggotanya untuk saling tukar-menukar pasangan, bahkan menghalalkan kegiatan group sex, ... sesuai persetujuan bersama.

Minggu berikutnya ditemukan di halaman belakang rumah kedua orang tersangka itu sisa-sisa tubuh manusia yang diperkirakan adalah bagian-bagian dari tubuhnya yang sudah dipotong-potong dan dibakar. Ironis sekali, oleh karena terjadinya tepat pada hari ulang tahun negara Kangguru ini (Australia Day), membau kepulan-kepulan asap daging yang dibakar, para tetangga mereka mengira, Mario Schembri (57 tahun) dan pacarnya, Bernadette Denny (41 tahun), sedang BBQ-an di pekarangan belakang rumah untuk merayakannya.

Oleh karena proses pengadilannya masih belum dimulai, sekalipun kedua orang itu sudah mengakui kesalahan mereka di dalam kasus pembunuhan tersebut, masyarakat hanya tahu, bahwa ... dari bandara Melbourne Herman Rockefeller tidak pulang ke rumah, tetapi langsung pergi menjumpai pasangan yang baru saja ia kenal melalui situs klub mereka. Pertemuan yang terbukti mencelakakan dirinya secara fatal itu bisa terbongkar, gara-gara percakapan mereka melalui salah satu telepon genggam rahasianya berhasil dilacak oleh polisi. Diperkirakan, oleh karena pertemuan itu tidak berjalan sesuai dengan rencana mula-mula, timbullah pertengkaran yang membuat pasangan tersebut menjadi mata gelap dan akhirnya membunuh dia.

Kisah nyata tersebut mengingatkan, bahwa ... merahasiakan tindakan-tindakan dosa dari sorotan umum atau orang-orang yang mengenal kita, bahkan dari anggota-anggota keluarga terdekat, adalah suatu ‘kebiasaan’ yang sudah lazim terjadi semenjak zaman dahulu kala. Bukan hanya di antara orang-orang yang belum percaya saja, tetapi juga mereka yang sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat-nya.

Saya teringat akan dosa rahasia raja Daud, seorang yang berkenan di hati Tuhan. (Kisah Para Rasul 13:22) Setelah mencemari diri Batsyeba, untuk menutupi konsekuensinya, dengan kejam ia merekayasa pembunuhan Uria, suaminya! Seperti kedua orang yang akhirnya membunuh Herman Rockefeller, Daud juga terjerat di dalam kejahatannya sendiri, sehingga ia harus merancang perbuatan dosa yang lebih kejam lagi. Semuanya disembunyikan sedemikian rupa olehnya, berpura-pura seolah-olah peristiwa itu tidak pernah terjadi. Tetapi Tuhan mengutus nabi Natan untuk pergi menemui dan menegur dia. (2 Samuel 11) Perlu dicatat, sekalipun ia sangat menyesalinya, bahkan mau bertobat, akibat dosa-dosa itu akhirnya harus ditanggung keturunannya. Raja Salomo menulis: “Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri.” (Amsal 5:22)

Alkitab penuh dengan orang-orang yang pandai berpura-pura seperti dia. Di zaman Perjanjian Baru mereka dikecam oleh Tuhan Yesus sebagai orang-orang yang munafik: Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.” (Matius 23:28)

Kecaman yang relevan, yang dengan mudah sekali bisa ditujukan kepada generasi-generasi zaman sekarang. Karena seperti raja Daud, Herman Rockefeller atau kedua pembunuhnya, sejujurnya saja, setiap orang, ... termasuk saya, pasti mempunyai paling sedikit ... satu atau dua dosa rahasia’ yang tidak pernah diceriterakan kepada orang lain! Bahkan disembunyikan sedemikian rupa, dengan harapan agar tidak ada seorang pun yang bisa menduganya.

Sekalipun ada banyak sekali macam dosa yang dirahasiakan oleh orang-orang, semua itu sebenarnya bisa diringkas menjadi dua kategori saja, yaitu: Perbuatan dosa yang pernah terjadi di masa lampau, dan perbuatan dosa yang dengan penuh kesadaran masih dilakukan sampai sekarang.

Biasanya keduanya selalu berkisar di ‘alam fantasi seksuil manusia, ... alam di mana khayalan-khayalan yang menyesatkan, lamunan-lamunan yang menyimpang, hasrat dan idaman hati setiap orang sudah tidak sesuai lagi dengan kenyataan hidup yang sebenarnya. Setiap generasi pasti mengalaminya, terutama yang masih muda belia!

Karena di alam itulah Iblis selalu menggoda, mempengaruhi, menjatuhkan dan akhirnya menjerat mereka. Tak terkecualikan, ... umat kristiani yang hidupnya tidak bersandar pada kebenaran firman Tuhan. Menggunakan kecanggihan berbagai media masa kini, dengan mudah ia bisa menjangkau semua orang di seluruh dunia dalam waktu serentak, untuk meracuni benak pikiran mereka, membangkitkan ego dan ketamakan hati, serta mengubah (menyelewengkan) pengertian hubungan seks antar dua insan, yang sudah dikaruniakan dan dipercayakan oleh Tuhan kepada umat ciptaan-Nya!

Tidaklah mengherankan, mayoritas kaum remaja secara global, begitu juga orang-orang dewasa, mempunyai issue yang cukup serius di bidang pornografi dan masturbasi! Janji-janji kesetiaan pasangan-pasangan hidup yang diikrarkan pada hari pernikahan mereka sudah tidak mempunyai nilai sama sekali. Zaman sekarang perselingkuhan bukanlah merupakan suatu hal yang langka lagi, karena gaya hidup penuh kemunafikan yang ditawarkan oleh berbagai Swinger’s Clubs di dunia barat juga sudah dianggap cukup lumrah oleh masyarakat umum di mana-mana.

‘Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? (Matius 9:4)

(Bersambung)

DOSA-DOSA RAHASIA (2)

SEXUAL FANTASIES

Thursday, September 17, 2009

Paras Tuhan Yesus (2)


Oleh: John Adisubrata

JAMES CAVIEZEL

Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia--begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi--” (Yesaya 52:14)

Film The Passion of the Christ karya Mel Gibson membuka pengertian untuk pertama kalinya bagi setiap penonton, bahkan para pengikut Kristus sendiri, bagaimana dahsyatnya penderitaan yang harus dilalui oleh Tuhan Yesus sebelum Ia dipakukan di kayu salib, hanya untuk menanggung dosa-dosa segenap umat manusia di dunia. Film tersebut juga membantu secara grafis arti ayat-ayat yang ditulis oleh nabi Yesaya di pasal 52 dan 53, yang sering kali dicomot keluar begitu saja dan diuraikan di luar pengertian keseluruhan pasal.

James Caviezel, seorang aktor Hollywood yang sebelumnya membintangi beberapa film terkenal lainnya, seperti: My Own Private Idaho (1991), The Thin Red Line (1998) dan The Count of Monte Christo (2002), memerankan Yesus di sana. Sampai saat ini wajahnyalah yang paling dikenal dan dikenang oleh orang-orang sebagai Kristus, melebihi wajah aktor-aktor lain yang pernah merepresentasikan kehidupan-Nya di layar putih sebelumnya. Peran yang ia bawakan benar-benar berhasil mempesona perhatian para penonton di seluruh dunia. Sekarang, jika orang-orang membicarakan Kristus, yang selalu ada di dalam pikiran mereka adalah bayangan paras James Caviezel, gara-gara kedahsyatan pengaruh film tersebut.

Entah mengapa, semenjak saya lahir baru lebih dari 12 tahun yang lalu, selama mempelajari firman Tuhan, saya selalu mengerti dan mempunyai pendapat, bahwa bayangan paras Tuhan Yesus bagi saya kurang-lebih seperti paras James Caviezel: tampan, bermata coklat (warna kedua mata James Caviezel sebenarnya adalah biru), berambut hitam yang berombak, bertubuh tinggi dan gagah, berbahu lebar, berdada tegap, bersikap lembut tapi tegas, penuh kharisma, selalu tampak menonjol di tengah-tengah kumpulan banyak orang, dan yang paling penting, mempunyai wajah yang bersinar penuh dengan kasih! Itulah pendapat saya jauh sebelum film itu ada!

Pandangan itu terpupuk oleh pengalaman-pengalaman saya sendiri selama ini bersama Roh Kudus. Pada saat saya lahir baru, hari Minggu tanggal 30 Maret 1997 jam 2:30 siang, saya berjumpa dengan Tuhan untuk pertama kalinya. Semenjak saat itu saya tahu, Dia dahsyat luar biasa! (Baca: Semuanya adalah Kasih Karunia) Lalu ketika saya mempersiapkan diri untuk menulis buku Sekilas dari Keabadian di tahun 2001, hasil percakapan saya dengan Ps Ian McCormack yang mendetil mengenai pertemuannya dengan Tuhan Yesus saat mati surinya, meneguhkan segala sesuatu mengenai Dia yang dengan iman sudah ada di dalam bayangan pikiran saya sendiri.

Saya yakin, paras Yesus sekarang masih tetap sama seperti paras Yesus dahulu, pada masa pelayanan-Nya di dunia. Kitab Ibrani 13 ayat 8 mencatat: Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Perbedaannya sekarang hanya, … Ia bukan manusia biasa lagi, tetapi Tuhan Yang Mahakuasa! (Wahyu 1:9-20)

Kesimpulan yang bisa saya ambil selama ini adalah:

1. Tuhan Yesus pasti berparas cakap, karena Ia adalah Allah yang menjadi contoh/teladan gambar dan rupa manusia biasa. (Kejadian 1:26) Rasul Yohanes menulis: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” (Yohanes 1:18) Kalau James Caviezel, Brad Pitt atau Mel Gibson, manusia-manusia biasa penuh dosa yang dilahirkan dari keluarga-keluarga yang juga berdosa, bisa mempunyai paras sempurna seperti itu pada saat mereka berumur 30-an, mengapa Yesus tidak? Bukankah mereka diciptakan oleh-Nya menurut gambar-Nya? Sebelum dilahirkan, Yesus sudah dinubuatkan sebagai Anak Allah yang kudus, tidak bercacat, tidak berdosa dan murni berasal dari sorga: ‘Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Lukas 1:35) Bukankah sebagai orang percaya, kita tahu, bahwa pengaruh dosalah yang menjadi asal-mula segala kekurangan dan ketidak-sempurnaan ‘hidup’ manusia? Hal itu tentu tidak berlaku bagi-Nya, karena Ia sama sekali tidak berdosa!

2. Tuhan Yesus pasti berperawakan tegap dan gagah, sebab sebelum masa pelayanan-Nya di dunia, Ia bekerja sebagai seorang Tukang Kayu. Setiap laki-laki berumur 30-an yang bekerja di bidang itu biasanya mempunyai tubuh yang atletis. Kesibukan mereka sehari-hari yang selalu menggunakan tenaga jasmani, akan mempengaruhi pertumbuhan perawakan mereka dengan cepat. Apalagi bagi orang-orang yang berasal dari Timur Tengah! Injil Lukas mencatat tentang pertumbuhan-Nya seperti ini: “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lukas 2:52)

3. Tuhan Yesus pasti tampak menonjol di tengah-tengah kumpulan banyak orang, karena paras, bentuk tubuh, sikap, tatakrama, kharisma dan pancaran cahaya wajah-Nya yang penuh kasih, langsung membuat Dia tampak berbeda sekali dengan orang-orang lain. Injil Yohanes mencatat peristiwa pertemuan pertama antara Yesus dan Yohanes Pembaptis seperti ini: ‘Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” (Yohanes 1:29) Yohanes Pembaptis bisa langsung mengenali-Nya di antara banyak sekali orang-orang yang khusus datang kepadanya untuk dibaptis, padahal ia belum pernah bertemu dengan Yesus!

Itu hanya beberapa argumentasi saja dari banyak sekali ayat-ayat di dalam firman Tuhan yang membuktikan, bahwa Yesus bukan seorang yang berwajah buruk, bertubuh kurus sekali atau agak gemuk atau pendek. Selain itu Ia juga bukan seorang yang berparas tidak menawan hati, sehingga seolah-olah diabaikan begitu saja oleh masyarakat pada masa pelayanan-Nya di dunia! Karena Yesaya 52:14 dan 53:2 sebenarnya adalah bagian-bagian dari nubuatan terpenting tentang saat-saat penderitaan luar biasa yang akan ditanggung oleh-Nya di kayu salib. (Yesaya 52:13-53:12) Kedua ayat tersebut sebenarnya melukiskan kengerian wajah dan tubuh Kristus yang sudah tidak bisa dikenali lagi, oleh karena siksaan-siksaan biadab yang seharusnya ditimpakan kepada kita, umat yang wajib dihukum!

Nabi Yesaya mencatatnya: “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:5) Penderitaan Yesus yang sangat memilukan hati tersebut, berhasil dirangkum dan dikisahkan kembali oleh Mel Gibson dengan jitu sekali di dalam filmnya: The Passion of the Christ!

Nabi Yesaya juga menubuatkan kelahiran Tuhan Yesus di awal kitabnya: “Pada waktu itu tunas yang ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan, dan hasil tanah menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi orang-orang Israel yang terluput.” (Yesaya 4:2) Dalam bahasa Inggris ayat itu diterjemahkan dari bahasa aslinya, bahasa Ibrani, seperti ini: “In that day the Branch of the LORD will be beautiful ang glorious, and the fruit of the land will be the pride and glory of the survivors in Israel.” (NIV)

Kata terjemahan beautiful, yang bisa berarti: tampan, cantik atau indah, dipergunakan di situ untuk menggambarkan keindahan Tunas yang akan tumbuh, yaitu Tuhan Yesus Kristus, yang olehnya dinubuatkan akan lahir kurang-lebih 700 tahun kemudian. Bandingkanlah kata Tunas di dalam ayat itu dengan kata Tunas di Yesaya 53:2. Keduanya membicarakan subyek yang sama, yaitu seorang Juruselamat dunia! Oleh karena itu, tidak mungkin nabi Yesaya mengkontradiksi nubuatannya sendiri mengenai keadaan (paras) Tunas tersebut!

Kata Ibrani yang sama juga dipergunakan untuk menggambarkan paras raja Daud di kitab Samuel: ‘Lalu jawab salah seorang hamba itu, katanya: “Sesungguhnya, aku telah melihat salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan TUHAN menyertai dia.” (1 Samuel 16:18) Dalam bahasa Inggris ayat tersebut diterjemahkan seperti ini: “One of the young men said, I have seen a son of Jesse the Bethlehemite who plays skillfully, a valiant man, a man of war, prudent in speech and eloquent, an attractive person; and the Lord is with him.” (Amplified)

Membandingkan kedua kata terjemahan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di dalam Alkitab dari sebuah kata Ibrani yang sama, yaitu: beautiful (indah/tampan/kepermaian) di Yesaya 4:2, dan an attractive person (seorang yang menarik/tampan/elok perawakannya) di 1 Samuel 16:18, membuktikan, bahwa ayat-ayat yang tertulis di kitab Yesaya 52:14 dan 53:2 tidak bisa dicomot keluar begitu saja dari konteksnya, lalu diartikan secara sembarangan. Selain itu tidak ada ayat-ayat lain di dalam Alkitab yang mendukung pengertian yang keliru tersebut. Kedua ayat itu harus ditelaah secara keseluruhan di dalam pengertian pasal-pasalnya sesuai maksud nabi Yesaya yang sebenarnya.

Saya percaya sekali, Ia adalah Raja Penebus yang gagah perkasa, sebab saya pernah bertemu dengan Dia secara pribadi. Keindahan Tuhan terlampau dahsyat untuk dilukiskan dengan kata-kata. Oleh karena itu saya berjanji kepada-Nya untuk selalu memberitakan kebenaran tersebut sesuai dengan firman-Nya.

Terpujilah nama Tuhan untuk selama-lamanya. Haleluya! Amin!

John Adisubrata
September 2009