Saturday, January 16, 2010

Mendengar Suara Tuhan (1)


Oleh: John Adisubrata

ROH KUDUS BERSABDA …

“…, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2 Petrus 1:21)

Lebih dari 10 tahun yang lalu teman kami yang masih muda belia, Sharon, datang memohon pendapat kami. Ia mengeluh, karena pendeta muda di gerejanya baru saja mengutarakan isi hati kepadanya. Tanpa tedeng aling-aling ia berkata, bahwa Roh Kudus sudah ‘bersabda’ (memberi ilham) kepadanya, bahwa ia adalah jodoh Sharon. Tentu saja itu bukan suatu hal yang langka, di mana seorang pria, siapa pun juga orangnya, menemui gadis yang ditaksir olehnya, lalu memberanikan diri untuk memprakarsai jalinan ‘hubungan cinta’ yang ia harapkan bisa terjadi sesuai perasaan hatinya. Tetapi yang berbeda dengan biasanya adalah keberanian pendeta muda itu untuk mengatakan, bahwa Sharon adalah calon isterinya yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Penyebab kedatangannya untuk memohon pendapat kami adalah karena Sharon hanya menganggap dia sebagai seorang teman sebaya biasa saja, sebagai salah seorang pendeta muda di gereja yang harus dihormati oleh jemaat. Ia berterus terang, bahwa sama sekali ia tidak mempunyai perasaan apa-apa untuknya. Kasarannya, jejaka itu bukan tipenya! Bahkan dengan jujur sekali Sharon juga berkata, bahwa ia sebenarnya kurang menyukai pribadinya, kendatipun dia adalah pendeta muda gerejanya. Sehingga ketika mereka berhadapan muka, Sharon tidak tahu reaksi apa yang harus ia berikan, apalagi saat mendengar pernyataannya, bahwa Roh Kudus-lah yang sudah menentukan mereka sebagai pasangan hidup.

Tanpa ingin meragukan kebenaran pernyataan jejaka itu, saya harus mengakui, bahwa secara pribadi saya juga pernah mendengar orang-orang percaya di sekitar kami melakukan hal-hal yang serupa. Kebanyakan mereka memakai nama Tuhan sebagai alasan untuk mencapai suatu tujuan, baik untuk kepentingan tubuh Kristus maupun kepentingan diri sendiri! Dengan penuh keyakinan, terkadang … penuh keberanian, mereka menyatakan segala sesuatu yang ada di dalam pikiran mereka kepada orang lain, seolah-olah semua itu murni berasal dari Roh Kudus. Kadang-kadang untuk menghibur atau menguatkan iman sesama, tetapi di lain kesempatan dipergunakan untuk menasehati atau menegur sikap hidup umat Tuhan yang lain.

Awal tahun 2000-an, ketika kami masih berusaha untuk menemukan sebuah cellgroup gereja di dekat rumah, di mana kami bisa menggabungkan diri dan juga melayani di sana, saya berkenalan dengan Scott, seorang single father (duda cerai beranak satu) yang masih muda, yang baru saja beberapa bulan sebelumnya lahir baru. Berapi-api penuh dengan semangat ia berkata, bahwa ia dikaruniai oleh Tuhan anugerah untuk bernubuat.

Malam pertama saya bertemu dengannya, saya perhatikan, diam-diam ia mengamat-amati setiap orang dari tempat duduknya, terutama para pendatang baru … termasuk saya. Kemudian saat beramah-tamah ia datang menghampiri, dan menyatakan kepada kami secara bergilir apa yang saat itu ada di dalam pikirannya tentang kami di depan semua orang. Yang paling menguatirkan adalah keberaniannya untuk meyakinkan kami, bahwa semua yang dikatakan olehnya itu adalah wahyu Roh Kudus. Padahal tidak semuanya bersifat positif, yang bisa membangun iman kami! Bahkan ada yang bersifat agak kurang etis, yang seharusnya disampaikan secara pribadi saja, karena bisa membuat orang-orang yang bersangkutan merasa dipermalukan olehnya di depan umum. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.” (1 Korintus 14:4) Jelas sekali di sini ia sudah mengabaikan arti firman tersebut!

Saya perhatikan, segala sesuatu yang dikatakan olehnya mengenai kami, yang menurut dia adalah ‘nubuatan’, tidak lebih tidak kurang adalah penganalisaan tabiat atau hidup kami secara perseorangan sesuai yang ‘diasumsikan’ olehnya. Seolah-olah ia ‘membaca’ garis-garis raut muka kami, dan juga tingkah laku kami pada malam itu, lalu dengan yakin sekali ‘meramal’ kehidupan kami sesuai dugaan hati atau … pikirannya sendiri. Dan oleh karena ia adalah seorang kristiani yang sudah lahir baru, ia berkesimpulan: Semua itu pasti berasal … dari Roh Kudus!

Sering kali saya mendengar kesaksian-kesaksian mengenai kejadian-kejadian seperti itu, karena orang-orang percaya seperti Scott menganggap Roma 12:6 adalah sebuah ayat yang sudah meresmikan ‘iman’ mereka, bahwa bernubuat adalah karunia yang Tuhan anugerahkan khusus kepada mereka: “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.”

Jauh sebelum saya lahir baru, saya mengenal seorang penginjil Indonesia dari kota Brisbane, Australia, yang secara pribadi memberi kesaksian, bahwa ketika ia baru saja mendarat di bandara kota Beijing, Cina, Roh Kudus memerintahkannya untuk segera berbahasa roh di depan para petugas imigrasi, dengan tujuan untuk menyelundupkan buku-buku alkitab sekoper penuh ke negara komunis tersebut. Terus terang saja, pada waktu itu ‘Roh Kudus’ atau ‘berbahasa roh’ tidak mempunyai arti apa-apa bagi saya!

Peristiwa itu dialami olehnya tepat pada saat terjadinya protes termasyhur di Tiananmen Square bulan Juni 1989 di mana banyak sekali mahasiswa-mahasiswa lokal mengalami penganiayaan dan pembantaian. Hal yang sama ia lakukan dengan iman tidak lama kemudian, pada saat membagi-bagikan alkitab yang baru saja diselundupkan olehnya kepada para pemrotes di tengah-tengah lapangan itu, di antara desingan-desingan peluru yang menyebabkan banyak sekali korban-korban yang mati tergeletak di kanan dan di kirinya. Menurut dia, ketaatannya kepada Roh Kudus untuk berbahasa roh seketika itu juga, menyebabkan ia terlindung dari sasaran tembakan peluru-peluru tersebut.

Belum lama ini saya mendengar kesaksian seorang saudara seiman yang berkata, bahwa ketika ia dalam keadaan mendesak lupa akan nama orang-orang yang sangat diperlukan olehnya, Roh Kudus membisikkan nama-nama itu kepadanya. Seorang lain menceriterakan, bahwa ketika ia berusaha menemukan sahabatnya yang melarikan diri, karena tidak mau membayar hutang kepadanya, Roh Kudus menunjukkan tempat di mana ia berada, sehingga ia bisa menjumpainya, menagih dan mendapatkan uangnya kembali. Saudara seiman yang lain lagi juga bersaksi, bahwa ketika ia berusaha menjual rumahnya, saat berdoa Roh Kudus memberitahukan secara spesifik sekali harga penjualan yang harus ditentukan olehnya.

Saya yakin, pernyataan-pernyataan dan kesaksian-kesaksian seperti itu mempunyai tujuan yang sama. Semuanya ingin membuktikan untuk menguatkan iman para pendengarnya, bahwa … jika kita sebagai orang-orang percaya meminta pertolongan Tuhan dengan sepenuh hati, Roh Kudus akan selalu membantu dan membuka jalan bagi kita untuk menyelesaikannya.

Tetapi, … apakah kesimpulan seperti itu selalu benar dan alkitabiah? Apakah semua ‘suara’ yang kita dengar selalu berasal dari Roh Kudus? Bagaimana kita bisa membedakan suara yang ada di dalam hati dengan suara-suara yang sedang menguasai pikiran-pikiran kita? Di manakah letak batas-batas yang menentukan perbedaannya?

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan para ahli Taurat mengenai hubungan raja Daud dengan-Nya, Yesus mencuplik dari kitab Mazmur, nubuatan yang ditulis oleh Daud sendiri di bawah pimpinan Roh Kudus beratus-ratus tahun sebelumnya, mengenai penobatan Yesus sebagai Raja Imam untuk selama-lamanya, menurut imam Melkisedek (Mazmur 110:1): “Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu.” (Markus 12:36)

(Bersambung)

MENDENGAR SUARA TUHAN (2)

PENGLIHATAN, MIMPI DAN ILHAM

Saturday, November 28, 2009

Makna Natal yang Sejati


Oleh: John Adisubrata

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.” (Yohanes 1:9-10)

Ketika Yesus dilahirkan di Betlehem lebih dari 2000 tahun yang lalu, peristiwa itu hanya disaksikan oleh orang-orang awam saja. Kedatangan Raja di atas segala raja, Sang Raja Damai yang sudah dinubuatkan beribu-ribu tahun sebelumnya, bahkan difirmankan oleh TUHAN sendiri (Kejadian 3:15), tidak digenapi dengan penuh kemegahan di hadapan penguasa-penguasa dunia, orang-orang terkenal, atau para bangsawan lainnya.

Melainkan sebaliknya, Ia lahir di dalam sebuah kandang hewan peliharaan, dibungkus dengan sehelai lampin dan dibaringkan di dalam sebuah palungan kayu yang tidak beharga, karena pada saat itu tidak tersedia satu pun kamar yang kosong di rumah-rumah penginapan bagi ibu-Nya, Maria, serta Yusuf, suaminya. (Lukas 2:7)

Kisah kelahiran-Nya yang tampak tidak berarti dan sangat sederhana itu ternyata bisa bertahan mengarungi waktu, … selalu relevan bagi kehidupan umat manusia sepanjang masa. Setiap tahun setiap generasi di seluruh dunia, secara langsung atau tidak, mendengar, mengenang dan memperingati kejadian bersejarah tersebut, yang terbukti sampai sekarang masih tetap berkuasa untuk mengubah sikap hidup mereka.

Selain mengirim ketiga orang majus dari Timur (Matius 2:1-12), Tuhan hanya memakai orang-orang biasa saja sebagai saksi-saksi kelahiran Anak-Nya yang tunggal itu. Alkitab mengatakan, bahwa gembala-gembala yang sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang dipilih oleh-Nya untuk menjadi saksi-saksi pertama kelahiran Kristus. Bukan para ahli Taurat, orang-orang Farisi atau orang-orang terpelajar lainnya!

Malam itu mereka melihat dan mendengar pujian yang dinyanyikan oleh sejumlah besar bala tentara sorga: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14)

Padahal pada abad yang pertama, status para penggembala domba di Israel tergolong amat rendah. Kesaksian-kesaksian mereka tidak bisa diterima oleh orang-orang Yahudi di sistim pengadilan mereka. Kendatipun demikian, Tuhan memilih dan menjadikan mereka saksi-saksi yang sah untuk memberitakan kedatangan Tuhan Yesus di dunia. Injil Lukas mencatatnya seperti ini: “Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.” (Lukas 2:18)

Sampai saat ini Tuhan masih tetap memilih orang-orang biasa sebagai saksi-saksi-Nya untuk memperingati dan memberitakan kabar gembira mengenai kelahiran seorang Juruselamat yang terjadi 2000 tahun yang lalu. Ia terus menggunakan orang-orang awam seperti kita untuk menyampaikannya kepada orang-orang yang sangat memerlukannya.

Ya, … Tuhan mau dan bisa memakai kita! Oleh karena itu kita tidak perlu mempertanyakan tujuan-Nya memanggil dengan meragukan kelayakan diri kita sendiri: “Apakah Tuhan bisa memakai seorang yang tidak berarti seperti aku, yang tidak memiliki kepandaian apa-apa? Apakah aku mampu melakukannya?”

Jika Allah Bapa di sorga mau menggunakan para gembala di padang sebagai saksi-saksi yang mutlak atas kelahiran Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, tentu Ia juga berkenan memakai kita. Yang dituntut oleh-Nya hanya sikap hati yang taat, yang mau memberitakan peristiwa tersebut kepada orang-orang lain seperti apa adanya, seperti yang tertulis di dalam firman Tuhan. Tanpa menambahkan ‘embel-embel’ lain yang sudah dilazimkan oleh umum, dan yang sekarang ternyata berhasil menyelewengkan kebenaran makna hari bersejarah itu.

Yesus-lah inti perayaan hari Natal yang diadakan setiap tahun di seluruh dunia. Dia-lah penyebab hari tersebut dirayakan sebagai suatu peringatan akan kedatangan Allah yang telah bersedia merendahkan diri-Nya sendiri, … menjelma menjadi manusia, agar kita, anak-anak manusia, bisa disebut sebagai anak-anak Allah. (Galatia 3:26)

Setiap orang mempunyai arena-arena sendiri yang bisa dipakai sebagai alat untuk membagikan kebenaran firman Tuhan mengenai peristiwa itu. Baik secara perseorangan, lokal, nasional, maupun internasional. Semua itu mempunyai harga yang sama, karena bukan besarnya jumlah pendengar/pembaca/pemirsa yang berkenan di hati-Nya, melainkan motif-motif pelayanan mereka yang bersedia melakukannya.

Marilah kita, melalui setiap media yang sudah disediakan oleh Tuhan untuk kita, bersama-sama memproklamirkan tanpa kompromi kisah kelahiran Sang Penebus. Menggunakan setiap kesempatan yang tersedia melalui arena masing-masing, marilah kita menjadi saksi-saksi-Nya yang mau membagikan kebenaran makna kisah Natal seperti apa adanya, … seperti yang sudah dilakukan oleh para penggembala domba di Betlehem pada saat kelahiran Tuhan kita, Yesus Kristus!

Agar … dunia mengerti kebenaran ayat ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Terpujilah nama Tuhan sampai selama-lamanya. Haleluya!

John Adisubrata
Desember 2007
Diolah kembali: November 2009

Friday, October 9, 2009

Tetapi ... Engkau Tidak!


Oleh: John Adisubrata

“Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” (Amsal 25:11)

Beberapa hal yang bisa terjadi di sekitar kita mempunyai kuasa sebesar setiap perkataan yang kita ucapkan tepat pada waktunya. Di lain pihak, kata-kata yang tidak diutarakan pada setiap kesempatan itu, jika waktunya telah berlalu, akan membuat kita menyesalinya seumur hidup. Keharmonisan hidup pasangan-pasangan suami istri sering kali menjadi berkurang, oleh karena mereka tidak menerapkan saran yang amat penting ini.

Di dalam hidup berumah-tangga umat Tuhan dianjurkan untuk selalu saling mengalah, saling menghormati, saling menghargai, dan terutama mengasihi pasangan-pasangan hidup mereka, seperti yang diperintahkan oleh-Nya di Kolose 3:19, 1 Petrus 3:1,7 dan di Titus 2:4,5. Tetapi keangkuhan sikap manusia sering kali menyebabkan mereka menolak untuk melaksanakannya. Sikap yang tidak mau mengalah, tidak mau kelihatan lemah, … mempengaruhi mereka untuk mengabaikan setiap tindakan ‘bijak’ yang patut dipuji, yang sudah dilakukan oleh pasangan-pasangan mereka.

Sahabat kami yang sering kali dengan suaminya saling menjatuhkan nama baik sendiri di depan umum melalui lontaran-lontaran komentar yang sinis, berpendapat, bahwa jika ia membenarkan nasehat suaminya yang pada awalnya tidak ia setujui, akan membuat ‘kepalanya menjadi besar’. Padahal di luar pengetahuan suaminya, ia mengakui dengan terus terang kepada kami setelah melihat hasilnya, bahwa saran tersebut ternyata betul sekali dan lebih menguntungkan ekonomi keluarganya. Kejadian seperti itu sering kali terulang, di mana secara bergantian, tanpa mau mengalah, mereka berusaha untuk saling mempermalukan di depan orang-orang. Saling menyindir menggunakan kata-kata yang pedas, mulai dari paras, bentuk tubuh, sampai karakter dan kelakuan masing-masing. Bahkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu diketahui oleh umum, menjadi terbongkar gara-gara itu.

Seandainya saja mereka saling mengindahkan, saling menghargai pendapat, dan terutama saling mengasihi, … jika perlu saling memuji di setiap kesempatan yang ada, saya jamin, perang dingin yang sudah lama mencuri damai sejahtera kehidupan rumah tangga mereka pasti berakhir! Karena … di suatu ketika, jika saat mereka tiba untuk berpisah selama-lamanya, saya yakin, yang ditinggal mati akan menyesali tindakan-tindakannya yang keliru tersebut. Seperti ungkapan sebuah pepatah: Nasi sudah menjadi bubur, … ia juga sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahannya!

Raja Salomo memberi nasehat: “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” (Amsal 15:23) Sebelumnya, di bagian kitab yang sama, ia menulis: “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.” (Amsal 12:25) Selain itu nabi Yesaya juga menganjurkan, agar kita mempunyai lidah seorang murid, supaya dengan perkataan kita dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. (Yesaya 50:4)

Saya pernah membaca catatan singkat sangat mengharukan yang diambil dari buku harian seorang wanita. Ungkapan hatinya dalam bentuk sebuah surat yang ditujukan secara pribadi kepada suaminya, dibacakan olehnya sendiri pada suatu upacara yang amat penting:

Aku teringat ketika aku mengendarai mobilmu yang masih baru, yang oleh karena keteledoranku telah hancur di jalan raya. Aku mengira engkau akan menunjukkan wajah geram tidak percaya, dan menyumpahi diriku. Tetapi … engkau tidak!

Aku teringat ketika aku memaksamu untuk pergi bersamaku ke pantai. Engkau menolak, karena engkau tahu hari itu hujan deras akan turun. Akhirnya kita pergi, dan ternyata engkau benar! Aku merasa begitu yakin, bahwa engkau tidak akan berdiam diri dan akan menegur aku dengan keras: “Apa kataku!” Tetapi … engkau tidak!

Pernah sekali aku menumpahkan segelas blueberry juice di atas jas putihmu yang masih baru. Aku tahu engkau marah dan menyalahkan tingkah-lakuku yang keterlaluan. Tetapi … engkau tidak!

Masih ingatkah engkau pada saat kita pergi ke pesta reuni sekolah kita malam itu? Aku keliru ketika menganjurkan agar engkau berpakaian casual saja. Engkau hadir hanya mengenakan celana jeans dan baju T Shirt biasa, yang membuat engkau menjadi salah tingkah sekali! Aku tahu engkau merasa tidak senang dan ingin lari ke luar seketika itu juga untuk meninggalkan aku seorang diri di sana. Tetapi … engkau tidak!

Aku berhasrat untuk mengutarakan isi hatiku kepadamu, bagaimana aku mencintaimu dan … menghargai semua yang telah engkau lakukan itu, jika engkau tiba kembali dari tugas militermu di Afghanistan. Tetapi … engkau tidak!

Raja Salomo pernah berkata: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3:1) Ia meneruskannya di pasal yang sama: “… ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; …” (Pengkhotbah 3:7b)

Memang benar, segala sesuatu ada waktunya. Tetapi kenyataan lain yang juga harus diketahui: Masa-masa itu ada batasnya! Apabila telah berlalu, kesempatan yang ada tersebut juga akan hilang untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, janganlah sampai kita melewatkan waktu kelak dengan menyesalinya seumur hidup, sebab kita sudah memendam di dalam hati kita kata-kata tak terucapkan, yang seharusnya didengarkan oleh orang-orang yang pada waktu itu sangat membutuhkannya.

Janganlah sekali-kali mengabaikan arti ayat ini: “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” (Amsal 16:24)

Oleh karena itu, … menunggu apa lagi, katakanlah sekarang juga kepada pasangan, anak-anak, keluarga, bahkan sahabat-sahabat anda, kata-kata yang memang sudah menjadi hak mereka dari semula! Janganlah menunggu sampai Tuhan harus menegur anda dengan keras: “Umat yang Kupilih bersedia merendahkan diri dan melakukannya, TETAPI … ENGKAU TIDAK!”

John Adisubrata
October 2009

Thursday, September 17, 2009

Paras Tuhan Yesus (2)


Oleh: John Adisubrata

JAMES CAVIEZEL

“Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia--begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi--” (Yesaya 52:14)

Film The Passion of the Christ karya Mel Gibson membuka pengertian untuk pertama kalinya bagi setiap penonton, bahkan para pengikut Kristus sendiri, bagaimana dahsyatnya penderitaan yang harus dilalui oleh Tuhan Yesus sebelum Ia dipakukan di kayu salib, hanya untuk menanggung dosa-dosa segenap umat manusia di dunia. Film tersebut juga membantu secara grafis arti ayat-ayat yang ditulis oleh nabi Yesaya di pasal 52 dan 53, yang sering kali dicomot keluar begitu saja dan diuraikan di luar pengertian keseluruhan pasal.

James Caviezel, seorang aktor Hollywood yang sebelumnya membintangi beberapa film terkenal lainnya, seperti: My Own Private Idaho (1991), The Thin Red Line (1998) dan The Count of Monte Christo (2002), memerankan Yesus di sana. Sampai saat ini wajahnyalah yang paling dikenal dan dikenang oleh orang-orang sebagai Kristus, melebihi wajah aktor-aktor lain yang pernah merepresentasikan kehidupan-Nya di layar putih sebelumnya. Peran yang ia bawakan benar-benar berhasil mempesona perhatian para penonton di seluruh dunia. Sekarang, jika orang-orang membicarakan Kristus, yang selalu ada di dalam pikiran mereka adalah bayangan paras James Caviezel, gara-gara kedahsyatan pengaruh film tersebut.

Entah mengapa, semenjak saya lahir baru lebih dari 12 tahun yang lalu, selama mempelajari firman Tuhan, saya selalu mengerti dan mempunyai pendapat, bahwa bayangan paras Tuhan Yesus bagi saya kurang-lebih seperti paras James Caviezel: tampan, bermata coklat (warna kedua mata James Caviezel sebenarnya adalah biru), berambut hitam yang berombak, bertubuh tinggi dan gagah, berbahu lebar, berdada tegap, bersikap lembut tapi tegas, penuh kharisma, selalu tampak menonjol di tengah-tengah kumpulan banyak orang, dan yang paling penting, mempunyai wajah yang bersinar penuh dengan kasih! Itulah pendapat saya jauh sebelum film itu ada!

Pandangan itu terpupuk oleh pengalaman-pengalaman saya sendiri selama ini bersama Roh Kudus. Pada saat saya lahir baru, hari Minggu tanggal 30 Maret 1997 jam 2:30 siang, saya berjumpa dengan Tuhan untuk pertama kalinya. Semenjak saat itu saya tahu, Dia dahsyat luar biasa! (Baca: Semuanya adalah Kasih Karunia) Lalu ketika saya mempersiapkan diri untuk menulis buku Sekilas dari Keabadian di tahun 2001, hasil percakapan saya dengan Ps Ian McCormack yang mendetil mengenai pertemuannya dengan Tuhan Yesus saat mati surinya, meneguhkan segala sesuatu mengenai Dia yang dengan iman sudah ada di dalam bayangan pikiran saya sendiri.

Saya yakin, paras Yesus sekarang masih tetap sama seperti paras Yesus dahulu, pada masa pelayanan-Nya di dunia. Kitab Ibrani 13 ayat 8 mencatat: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Perbedaannya sekarang hanya, … Ia bukan manusia biasa lagi, tetapi Tuhan Yang Mahakuasa! (Wahyu 1:9-20)

Kesimpulan yang bisa saya ambil selama ini adalah:

1. Tuhan Yesus pasti berparas cakap, karena Ia adalah Allah yang menjadi contoh/teladan gambar dan rupa manusia biasa. (Kejadian 1:26) Rasul Yohanes menulis: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” (Yohanes 1:18) Kalau James Caviezel, Brad Pitt atau Mel Gibson, manusia-manusia biasa penuh dosa yang dilahirkan dari keluarga-keluarga yang juga berdosa, bisa mempunyai paras sempurna seperti itu pada saat mereka berumur 30-an, mengapa Yesus tidak? Bukankah mereka diciptakan oleh-Nya menurut gambar-Nya? Sebelum dilahirkan, Yesus sudah dinubuatkan sebagai Anak Allah yang kudus, tidak bercacat, tidak berdosa dan murni berasal dari sorga: ‘Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Lukas 1:35) Bukankah sebagai orang percaya, kita tahu, bahwa pengaruh dosalah yang menjadi asal-mula segala kekurangan dan ketidak-sempurnaan ‘hidup’ manusia? Hal itu tentu tidak berlaku bagi-Nya, karena Ia sama sekali tidak berdosa!

2. Tuhan Yesus pasti berperawakan tegap dan gagah, sebab sebelum masa pelayanan-Nya di dunia, Ia bekerja sebagai seorang Tukang Kayu. Setiap laki-laki berumur 30-an yang bekerja di bidang itu biasanya mempunyai tubuh yang atletis. Kesibukan mereka sehari-hari yang selalu menggunakan tenaga jasmani, akan mempengaruhi pertumbuhan perawakan mereka dengan cepat. Apalagi bagi orang-orang yang berasal dari Timur Tengah! Injil Lukas mencatat tentang pertumbuhan-Nya seperti ini: “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lukas 2:52)

3. Tuhan Yesus pasti tampak menonjol di tengah-tengah kumpulan banyak orang, karena paras, bentuk tubuh, sikap, tatakrama, kharisma dan pancaran cahaya wajah-Nya yang penuh kasih, langsung membuat Dia tampak berbeda sekali dengan orang-orang lain. Injil Yohanes mencatat peristiwa pertemuan pertama antara Yesus dan Yohanes Pembaptis seperti ini: ‘Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” (Yohanes 1:29) Yohanes Pembaptis bisa langsung mengenali-Nya di antara banyak sekali orang-orang yang khusus datang kepadanya untuk dibaptis, padahal ia belum pernah bertemu dengan Yesus!

Itu hanya beberapa argumentasi saja dari banyak sekali ayat-ayat di dalam firman Tuhan yang membuktikan, bahwa Yesus bukan seorang yang berwajah buruk, bertubuh kurus sekali atau agak gemuk atau pendek. Selain itu Ia juga bukan seorang yang berparas tidak menawan hati, sehingga seolah-olah diabaikan begitu saja oleh masyarakat pada masa pelayanan-Nya di dunia! Karena Yesaya 52:14 dan 53:2 sebenarnya adalah bagian-bagian dari nubuatan terpenting tentang saat-saat penderitaan luar biasa yang akan ditanggung oleh-Nya di kayu salib. (Yesaya 52:13-53:12) Kedua ayat tersebut sebenarnya melukiskan kengerian wajah dan tubuh Kristus yang sudah tidak bisa dikenali lagi, oleh karena siksaan-siksaan biadab yang seharusnya ditimpakan kepada kita, umat yang wajib dihukum!

Nabi Yesaya mencatatnya: “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:5) Penderitaan Yesus yang sangat memilukan hati tersebut, berhasil dirangkum dan dikisahkan kembali oleh Mel Gibson dengan jitu sekali di dalam filmnya: The Passion of the Christ!

Nabi Yesaya juga menubuatkan kelahiran Tuhan Yesus di awal kitabnya: “Pada waktu itu tunas yang ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan, dan hasil tanah menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi orang-orang Israel yang terluput.” (Yesaya 4:2) Dalam bahasa Inggris ayat itu diterjemahkan dari bahasa aslinya, bahasa Ibrani, seperti ini: “In that day the Branch of the LORD will be beautiful ang glorious, and the fruit of the land will be the pride and glory of the survivors in Israel.” (NIV)

Kata terjemahan beautiful, yang bisa berarti: tampan, cantik atau indah, dipergunakan di situ untuk menggambarkan keindahan Tunas yang akan tumbuh, yaitu Tuhan Yesus Kristus, yang olehnya dinubuatkan akan lahir kurang-lebih 700 tahun kemudian. Bandingkanlah kata Tunas di dalam ayat itu dengan kata Tunas di Yesaya 53:2. Keduanya membicarakan subyek yang sama, yaitu seorang Juruselamat dunia! Oleh karena itu, tidak mungkin nabi Yesaya mengkontradiksi nubuatannya sendiri mengenai keadaan (paras) Tunas tersebut!

Kata Ibrani yang sama juga dipergunakan untuk menggambarkan paras raja Daud di kitab Samuel: ‘Lalu jawab salah seorang hamba itu, katanya: “Sesungguhnya, aku telah melihat salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan TUHAN menyertai dia.” (1 Samuel 16:18) Dalam bahasa Inggris ayat tersebut diterjemahkan seperti ini: “One of the young men said, I have seen a son of Jesse the Bethlehemite who plays skillfully, a valiant man, a man of war, prudent in speech and eloquent, an attractive person; and the Lord is with him.” (Amplified)

Membandingkan kedua kata terjemahan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di dalam Alkitab dari sebuah kata Ibrani yang sama, yaitu: ‘beautiful’ (indah/tampan/kepermaian) di Yesaya 4:2, dan ‘an attractive person’ (seorang yang menarik/tampan/elok perawakannya) di 1 Samuel 16:18, membuktikan, bahwa ayat-ayat yang tertulis di kitab Yesaya 52:14 dan 53:2 tidak bisa dicomot keluar begitu saja dari konteksnya, lalu diartikan secara sembarangan. Selain itu tidak ada ayat-ayat lain di dalam Alkitab yang mendukung pengertian yang keliru tersebut. Kedua ayat itu harus ditelaah secara keseluruhan di dalam pengertian pasal-pasalnya sesuai maksud nabi Yesaya yang sebenarnya.

Saya percaya sekali, Ia adalah Raja Penebus yang gagah perkasa, sebab saya pernah bertemu dengan Dia secara pribadi. Keindahan Tuhan terlampau dahsyat untuk dilukiskan dengan kata-kata. Oleh karena itu saya berjanji kepada-Nya untuk selalu memberitakan kebenaran tersebut sesuai dengan firman-Nya.

Terpujilah nama Tuhan untuk selama-lamanya. Haleluya! Amin!

John Adisubrata
September 2009

Wednesday, September 2, 2009

Paras Tuhan Yesus (1)


Oleh: John Adisubrata

PARAS ILHAM

“Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.” (Yesaya 53:2)

Ketika anda membaca ayat di atas, Yesaya 53:2, apakah yang menjadi kesimpulan anda mengenai maksud yang ditulis oleh nabi Yesaya di sana? Jelas sekali, keseluruhan isi pasal ke-52 dan 53 kitab itu, menubuatkan 700 tahun sebelumnya kedatangan seorang Raja Damai yang akan memberitakan kabar baik, kabar keselamatan bagi umat Tuhan di Sion (Yesaya 52:7), dan juga penderitaan luar biasa yang harus ditanggung oleh-Nya demi tercapainya tujuan itu. Tetapi, apakah melalui Yesaya 53:2 ia juga menubuatkan paras Tuhan Yesus Kristus pada masa hidup-Nya di dunia? Memang jika dibaca di luar konteks, seolah-olah ayat tersebut menggambarkan Yesus sebagai seorang yang berparas buruk, atau paling sedikit … tidak tampan. Wajah yang tidak menawan hati, wajah yang tidak menarik sama sekali!

Sampai saat ini saya masih sering mendengar hamba-hamba Tuhan menelaah ayat itu dengan menyimpulkannya persis seperti arti kalimat yang tertulis di sana, di luar pengertian seluruh pasal yang sebenarnya dimaksudkan oleh nabi Yesaya. Ketika saya mendengarnya terakhir kali beberapa minggu yang lalu melalui acara TV: The Armour of God, di mana ayat tersebut juga dibahas seperti itu, saya yang menjadi amat penasaran oleh karenanya, berusaha mempelajari Yesaya 52, 53 dan 54 sekali lagi, untuk memastikan kebenaran pengertian saya selama ini.

Saya tahu, setiap orang mempunyai bayangan sendiri-sendiri mengenai paras atau bentuk tubuh Tuhan Yesus sesuai pengertian pribadi, yang tentu saja bisa terpengaruh oleh pendidikan atau lingkungan mereka. Ada yang terpengaruh oleh patung-patung penyaliban-Nya yang dipajang di gereja, yang tidak jarang menggambarkan Dia sebagai seorang laki-laki yang bertubuh kurus. Ada yang membayangkan wajah-Nya sebagai seorang pria berewok berambut panjang, dengan lingkaran ‘halo’ yang berkilau-kilauan di atas kepala-Nya, seperti lukisan-lukisan karya para seniman termasyhur abad-abad yang sudah berlalu.

Bahkan ada yang terpengaruh oleh paras aktor-aktor terkenal yang pernah memerankan kisah hidup-Nya di dalam movies atau musicals, baik yang sesuai dengan firman Tuhan maupun yang setengah fiksi. Sering kali Hollywood menyajikan Yesus secara tidak realistis, seolah-olah Dia adalah seorang pria Anglo-Saxon yang berambut pirang dan bermata biru. Di dalam movie King of Kings (1961), Jeffrey Hunter memerankan Yesus seperti itu. Di sana Ia digambarkan sebagai seorang pria yang bertampang rapi, bermata biru jernih, berambut coklat dan berjambang pendek.

Tahun 1964, sutradara dari Italia, Pier Paolo Pasolini memilih aktor Spanyol, Enrique Irazoqui untuk memerankan Yesus di dalam filmnya: The Gospel According to St Matthew (Injil Menurut St Matius). Tidak berbeda dengan film sebelumnya, film yang diproduksi dengan budget sangat terbatas ini, kendatipun menampilkan Yesus dengan wajah yang lebih cocok, seakan-akan Ia benar-benar berasal dari Timur Tengah, gagal untuk meyakinkan atau meninggalkan kesan yang tak terlupakan kepada para penonton.

Sebuah film penuh dengan adegan-adegan yang panjang sekali, tetapi sangat membosankan: The Greatest Story Ever Told, dibuat tahun 1965 dengan aktor Max von Sydow sebagai Tuhan Yesus. Dari banyak film-film lainnya mengenai kehidupan Kristus, mungkin dia adalah salah seorang dari aktor-aktor yang pernah memerankan-Nya, yang sampai sekarang paling tidak dikenal atau dikenang oleh orang-orang.

Memang, baik Jeffrey Hunter di King of Kings, atau Enrique Irazoqui di The Gospel According to St Matthew, maupun Max von Sydow di The Greatest Story Ever Told, Yesus yang mereka representasikan tampak terlampau cliché. Ketiga film itu tidak berhasil memperlihatkan ciri-ciri terpenting dari ketuhanan dan kemanusiaan seorang Juruselamat yang penuh kasih. Ketiga-tiganya selalu tampak serius, jarang sekali tersenyum, … apalagi tertawa!

Pada tahun 1977, Franco Zefferelli membuat miniseries untuk televisi yang berjudul: Jesus of Nazareth. Film tersebut walaupun jalan ceriteranya panjang sekali, cara penuturannya sangat mengesankan. Hampir seluruhnya adalah jalinan petikan-petikan kisah dari keempat Injil yang diselipi oleh beberapa kisah tambahan dengan tujuan untuk memudahkan para pemirsa memahami peristiwa-peristiwa yang harus terjadi sebelum Tuhan Yesus disalibkan di Golgota. Robert Powell yang memerankan Kristus adalah salah seorang aktor yang sampai sekarang paling dikenal dan dikenang sebagai pemeran Yesus, kendatipun ia berambut pirang dan bermata biru. Di dalam film itu Ia ditampilkan secara wajar dan realistis sekali.

Dua tahun kemudian sebuah film berjudul: Jesus, diproduksi murni berdasarkan kisah hidup-Nya yang tercatat di Injil Lukas, dengan Brian Deacon sebagai pemeran utamanya. Menurut data statistik, film yang akhirnya diubah menjadi alat penginjilan yang sangat ampuh ini adalah film yang paling banyak ditonton orang sepanjang masa! Kabarnya 5,6 milyar orang di seluruh dunia sudah melihatnya. Tepat 20 tahun kemudian, pada tahun 1999, sebuah film dengan judul yang sama: Jesus, diproduksi lagi untuk kaum muda, dengan Jeremy Sisto sebagai pemeran Kristus. Entah mengapa, wajah kedua aktor inipun gagal meninggalkan kesan yang tak terlupakan bagi para penontonnya!

Di bulan Desember 2002 sebuah badan ilmiah di Inggris mengumumkan, bahwa mereka berhasil melukiskan kembali wajah Kristus yang ‘sebenarnya’, menggunakan forensic anthropology, yang biasanya hanya dipakai untuk mempelajari dan membongkar perkara-perkara kriminil yang rumit saja. Bekerja sama dengan seorang ahli ilmu purbakala dari Israel, tanpa mampu melakukan penelitian DNA pada tubuh Kristus, mereka merekonstruksi paras-Nya. Menurut hasil penemuan mereka, wajah dan tubuh Yesus justru bertentangan sekali dengan yang biasanya dikenal dan dibayangkan oleh masyarakat kristiani di seluruh dunia. Selain Yesus berparas tidak tampan, Ia bertubuh pendek dan agak gemuk. Mereka juga berani menyatakan, bahwa hasil penemuan mereka itu adalah ‘yang paling akurat’! Sungguh luar biasa!

The Gospel of John (Injil Yohanes) yang menampilkan Henry Ian Cusick sebagai Yesus beredar di dunia DVD awal tahun 2003. Jalan ceriteranya disajikan murni berdasarkan ayat-ayat Injil tersebut. Seperti Robert Powell di Jesus of Nazareth, Henry Ian Cusick juga memerankan Yesus secara wajar dan realistis sekali. Banyak orang yang menyukainya, karena seperti rekannya itu, ia juga berwajah biasa-biasa saja, tetapi bisa mewakili dunia barat dan timur. Sebagai seorang peranakan Scottland dan Peru, ia memberi keseimbangan kepada tokoh yang diperankan olehnya! Bukan 100% paras seorang Anglo-Saxon, tetapi juga bukan 100% paras seorang yang berasal dari Timur Tengah.

Dr James Dobson pernah berkata sebelum Mel Gibson membuat film The Passion of the Christ, bahwa di dalam hal menyimpulkan paras Tuhan Yesus secara pribadi, Henry Ian Cusick, yang bermata coklat dan berambut hitam, adalah favoritnya, melebihi aktor-aktor lain yang pernah memainkan kehidupan Kristus di layar putih. Menurut pendapatnya, paras Henry Ian Cusick tepat mewakili paras Tuhan Yesus sesuai yang selalu dibayangkan olehnya.

Terus terang saja, tidak pernah ada film mengenai Kristus yang lebih kontroversiil dari pada Mel Gibson’s The Passion of the Christ (2004). Film dengan anggaran belanja yang sangat terbatas, yang hanya membahas hari-hari terakhir kehidupan Yesus sebelum disalibkan dan juga saat kebangkitan-Nya, telah menggoncangkan atmosfir setiap bioskop di seluruh dunia oleh karena kekerasan dan kekejaman yang diperlihatkan di sana.

Di luar dugaan penonton, penderitaan dan pengorbanan Kristus di kayu salib disajikan secara blak-blakan dan realistis sekali, sesuai dengan keadaan zaman, kekejian dan kebiadaban hukum pada waktu itu. Biasanya film-film mengenai penyaliban Yesus, kendatipun menunjukkan penderitaan-Nya yang luar biasa, selalu disajikan sedemikian rupa, sehingga masih bisa ditoleransi oleh emosi-emosi manusia. Tetapi film karya Mel Gibson ini … berbeda sekali! Kalau wajah Yesus di film-film tersebut hampir tidak berubah kala Ia disalibkan, di film The Passion of the Christ, wajah-Nya sangat mengerikan, … tidak bisa dikenali lagi!

“demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.” (Yesaya 52:15)

(Bersambung)

PARAS TUHAN YESUS (2)

JAMES CAVIEZEL