Thursday, January 22, 2009

Sekilas dari Keabadian (15)


Kesaksian Ian McCormack

Oleh: John Adisubrata

DOA ‘BAPA KAMI’

“Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Lukas 11:9)

Di dalam penglihatan tersebut saya menyaksikan huruf-huruf abjad yang tiba-tiba timbul dan membentuk suatu barisan kata-kata yang tersusun dengan rapi sekali di depan mata saya.

Penuh keheranan saya membaca kalimat itu: Dan ampunilah kami akan kesalahan kami.”

“Memohon ampun akan kesalahan-kesalahanku?” Penuh kebimbangan saya bertanya-tanya sendiri: “Apakah mungkin seseorang bisa menerima pengampunan dosa hanya dengan mengucapkan kalimat yang sependek itu saja? Oh, … dosa-dosaku terlampau banyak, … sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.”

Kembali saya memperhatikan ibu saya terus mendorong dan memaksa saya untuk melakukan wejangannya: “Dari dalam hatimu, Ian, … katakanlah semua itu dari dalam lubuk hatimu!”

Sambil terus berusaha mengatasi keragu-raguan di dalam hati saya, sesuai anjurannya saya berseru kepada Tuhan: “Tuhan, aku menyadari, bahwa aku sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi untuk menguraikan segala dosa-dosaku kepada-Mu, sebab jumlahnya terlampau banyak. Tetapi, … jika aku masih berkenan di hati-Mu, … saat ini juga aku memohon pengampunan atas dosa-dosa yang pernah kulakukan sepanjang hidupku.” 

Seketika itu juga kalimat pendek itu menjadi kabur, lalu perlahan-lahan menghilang. Sedangkan huruf-huruf abjad yang baru, tampil dengan membentuk barisan kata-kata lain yang berbunyi: Seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Saya berpikir: “Mengampuni orang yang bersalah kepadaku?”

Oh, itu mudah sekali! Saya bukan seorang pendendam yang gemar ‘mengumpulkan’ kesalahan orang-orang lain, … apalagi mengingat-ingatnya. Oleh karena itu, tanpa merasa ragu-ragu lagi saya langsung berkata: “Tuhan, aku bersedia mengampuni semua orang yang sudah berbuat salah kepadaku, ... siapa pun juga orangnya, … kesalahan mereka akan kuampuni!”

Baru saja saya berhenti mengatakannya, tiba-tiba wajah kejam seorang laki-laki yang saya kenal, … wajah yang pasti tidak akan saya lupakan lagi untuk selama-lamanya, tampil di hadapan saya!

“Lho, … apakah yang sedang terjadi sekarang? Mengapa orang jahat ini tiba-tiba muncul di depanku?” Tertegun saya memandang wajahnya penuh pertanyaan.

Kembali saya mendengar dengan jelas suara seorang laki-laki yang sepanjang malam itu telah menasihati saya tiga kali: Apakah engkau bersedia mengampuni kesalahan laki-laki ini, … orang yang baru saja menganiaya engkau dengan mencampakkan dirimu keluar dari dalam taksinya, … orang yang dengan tega sekali sudah meninggalkan engkau terkapar seorang diri, tak berdaya di tepi jalan?”

Ternyata raut muka supir taksi keturunan India yang tidak mengenal peri kemanusiaan itu ditampilkan oleh-Nya di sana untuk menguji kemurnian pernyataan saya tadi.

Menatap wajah orang jahat yang sudah berhasil menghancurkan harga diri saya pada saat saya sama sekali tidak berdaya untuk membelanya, cukup membuat hati saya terasa amat panas, … membara penuh kebencian. Dengan geram sekali saya berusaha untuk menghindari kenyataan, bahwa pada saat itu Ia sedang menantikan keputusan saya!

Merasa kecewa sekali saya mengeluh: “Oh tidak, … ini pasti suatu kekeliruan yang besar! Tuhan, … apakah Engkau benar-benar serius mengenai hal ini?”

Ketika isi hati saya masih terus berkecamuk tidak menentu, menimbang-nimbang keputusan yang harus segera saya berikan kepada-Nya, tiba-tiba wajah seorang laki-laki lain yang tidak kalah kejamnya muncul di hadapan saya.

“Lho, mengapa ia ada di sini juga?” Saya menjadi semakin heran, karena saya tidak pernah menduga, bahwa Ia akan menghadapkan diri saya dengan kedua orang tersebut, hanya untuk membuktikan ketulusan pernyataan yang baru saya berikan tadi!

Kembali saya mendengar suara laki-laki tersebut bertanya: Apakah engkau juga bersedia mengampuni kesalahan orang ini, ... yang oleh karena kepelitannya sudah tega menolak untuk mengantarkan engkau pergi ke rumah sakit menggunakan mobilnya? Apakah engkau masih tetap mempunyai keinginan untuk membalas dendam atas perbuatannya yang keji terhadap dirimu?”

Ternyata raut muka laki-laki muda keturunan Cina, pemilik hotel Tamarin Bay, ikut tampil di hadapan saya untuk membangkitkan kembali semua kenangan-kenangan pahit yang baru saya alami malam itu! Oh, … kegeraman di dalam hati saya menjadi semakin memuncak saja!

Ketika itu saya belum menyadari, bahwa Ia mengharapkan sebuah keputusan yang tulus, yang harus keluar dari dalam lubuk hati saya. Ia memperlihatkan wajah kedua laki-laki yang baru saja menganiaya saya tersebut untuk memberi kesempatan kepada saya guna membuktikan ketulusan hati serta kemurnian kata-kata yang saya utarakan tadi!

Memberanikan diri, saya berusaha menguraikan alasan-alasannya: “Tapi Tuhan, … mereka adalah orang-orang yang jahat. Oleh karena tindakan-tindakan mereka yang keterlaluan itu, aku sudah berjanji, bahwa kelak aku akan mencari mereka. Aku hanya ingin memberi pelajaran kepada mereka saja, … suatu pelajaran hidup yang tidak akan pernah mereka lupakan lagi untuk selama-lamanya!” 

Sementara itu timbullah kembali rasa ragu-ragu di dalam hati dan pikiran saya: “Siapakah sebenarnya laki-laki ini, yang sedari tadi berusaha menasihati diriku? Bukankah kedua kalimat yang tampil di depan mataku adalah sebagian kecil dari doa Bapa Kami’, yang pernah kupelajari dulu? Mengapa doa tersebut tampak seperti sebuah ‘Jigsaw Puzzle’ yang amat rumit, yang menyebabkan aku tidak ingat dan tidak bisa mengucapkan kata-katanya lagi? Apakah saat ini aku sedang bercakap-cakap dengan Tuhan? Dan … apakah oleh karena kasih karunia-Nya, Ia ingin, agar aku mengampuni mereka? Jelas sekali suara itu bukan suara hatiku sendiri, karena dari semula aku sudah mempunyai keinginan yang amat besar untuk membalas dendam! Jadi, … kesimpulannya, … saat ini aku benar-benar sedang bercakap-cakap dengan Tuhan!”

Oh, … mengingat hal itu, hati saya menjadi gentar sekali! Jadi ... selama ini, untuk pertama kalinya, saya bisa mendengar suara Tuhan, bahkan … bercakap-cakap dengan Dia.

Apakah semua ini benar-benar sedang terjadi? Atau, … apakah saya hanya bermimpi saja?

(Nantikan dan ikutilah perkembangan kesaksian bersambung ini

SEKILAS DARI KEABADIAN (16)
Kesaksian Ian McCormack 

MENGAMPUNI UNTUK DIAMPUNI

No comments: