Thursday, January 15, 2009

Sekilas dari Keabadian (9)


Kesaksian Ian McCormack

Oleh: John Adisubrata

MENGEMIS BELAS KASIHAN

Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan; jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong.” (Mazmur 123:3-4)

Status kehidupan penduduk pulau Mauritius terbagi menjadi empat tingkat (kasta). Kasta tertinggi diduduki oleh orang-orang yang berkulit putih. Orang-orang Asia keturunan Cina menduduki kasta yang kedua, disusul oleh orang-orang keturunan India. Sedangkan orang-orang yang berkulit hitam, penduduk lokal Creole, menduduki kasta yang paling rendah!

Sering kali di Afrika Selatan saya menyaksikan orang-orang pribumi diperlakukan dengan kejam sekali. Saya pernah melihat mereka yang bekerja sebagai budak-budak, berlutut di hadapan ‘pemilik-pemilik’ mereka, orang-orang yang berkulit putih, sambil menundukkan muka tanpa mempunyai keberanian untuk menatap wajah atau mata mereka.

Oleh karena itu saya memutuskan untuk meniru tindakan-tindakan mereka! Saya akan merendahkan diri saya sedemikian rupa, di mana saya bersedia untuk berlutut di hadapan ketiga pengemudi taksi tersebut, untuk mengemis belas kasihan dan pertolongan mereka!

Seorang laki-laki berkulit putih mengemis belas kasihan, bahkan … berlutut di depan orang-orang Mauritius keturunan bangsa India? Saya yakin sekali, mereka bertiga belum pernah melihatnya.

Sambil menekuk lutut kaki kiri dan mengulurkan kedua tangan saya ke depan, saya menjatuhkan diri di belakang mereka. Kepala saya tundukkan dalam-dalam, dan bagaikan seorang peminta-minta yang sedang memohon belas kasihan dan bantuan ‘sedekah’ dari mereka, saya berkata: “Tolonglah saya, Pak. Saya harus segera diantar ke rumah sakit. Saya berjanji kepada Anda, saya pasti akan memberikan uang yang Anda inginkan tersebut.”

Melalui sudut mata, saya bisa melihat kaki-kaki mereka berhenti melangkah seketika itu juga. Kepala-kepala mereka menoleh, saling menatap penuh keheranan, seolah-olah mereka tidak bisa mempercayai penglihatan mereka sendiri. Supir-supir taksi tersebut tentu tidak pernah menduga sebelumnya, bahwa saya bersedia untuk melakukan hal itu.

Tetapi … tak lama kemudian, dua orang di antara mereka memalingkan tubuh dan meneruskan langkah-langkah mereka lagi.

Saya hanya bisa memperhatikan sepasang kaki saja yang masih terpaku di tempat yang sama, penuh keragu-raguan untuk mengikuti langkah-langkah kaki teman-temannya. Saya merasa kurang yakin, apakah tindakan saya sudah berhasil menggugah hati nuraninya, atau …? 

Setelah berdiam diri di tempat beberapa saat lamanya, akhirnya supir taksi tersebut mengambil keputusan untuk datang menghampiri saya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia menarik tubuh saya ke atas untuk berdiri dan menolong memapah saya berjalan menuju ke taksinya.

Beberapa menit kemudian kami berdua sudah berada di tengah-tengah jalan raya, meninggalkan pekarangan Caltex Petrol Station melaju dengan pesat menuju ke kota Quatre Bomes.

Di sepanjang jalan supir taksi itu berdiam diri saja. Tampaknya ia sedang asyik memikirkan perbuatan ‘baik’ yang sedang dilakukan olehnya. Ia ingin memastikan, apakah tindakannya tersebut akan membawa keuntungan yang besar bagi dirinya, atau … tidak?

Karena pada waktu itu 100 Dollar adalah sejumlah uang yang amat besar dan berarti sekali bagi penduduk pulau Mauritius!

Mendadak deru suara gaduh mesin taksi yang menggema di dalam mobil tersebut terganggu oleh suaranya yang keras: “Hei white boy, di manakah hotelmu? Marilah kita pergi ke sana dahulu untuk mengambil uangmu.”

“Hotel …?” Saya tertegun, … memandang wajahnya dari samping, lalu menjawab: “Saya tidak tinggal di hotel.”

Terkejut ia menoleh dan menatap wajah saya dengan mata melotot. Penuh kemarahan ia membentak: “Engkau telah mempermainkan aku! Bukankah tadi engkau mengatakan kepada kami, bahwa engkau seorang turis yang tinggal di hotel?”

“Tidak Pak, … saya tidak pernah mengatakannya.” Saya menjawab lagi: “Saya bukan seorang turis dan saya tidak tinggal di hotel. Saya hanya seorang traveller yang menyewa sebuah bungalo di Tamarin Bay.”

Mendengar jawaban saya, supir taksi itu menjadi naik pitam sekali! Setir kendaraan dibanting olehnya ke kanan untuk mengambil jalan samping yang pertama yang bisa ia temukan, dengan tujuan untuk meninggalkan jalan raya yang sedang kami lalui tersebut.

Ia menghentikan taksinya tepat di depan sebuah rumah penginapan yang bernama Tamarin Bay Hotel. Setelah itu dengan kasar sekali ia membentak dan memaki-maki saya: “Engkau sudah menipu aku! Ayo, keluarlah saat ini juga dari dalam taksiku! Carilah pertolongan di dalam hotel itu saja!”

“Sungguh Pak, saya tidak membohongi Anda. Saya mempunyai uang untuk membayar Bapak.” Saya memohon sekali lagi kepadanya setelah menyadari, bahwa pada saat itu kedua kaki saya sudah menjadi lumpuh sama sekali: “Pak, saya tidak bisa melangkah keluar dari dalam taksi ini, sebab kedua kaki saya sudah tidak mampu saya gerakkan lagi. Tolonglah, Pak! Antarkanlah saya ke rumah sakit terlebih dahulu. Saya berjanji kepada Anda, saya pasti akan membayar ongkos taksi Bapak.”

Kali ini supir taksi itu meraih gagang pembuka pintu mobil bagian penumpang di mana saya sedang duduk, membukanya secara kasar sekali sambil membentak keras: Keluar kau!

Menyadari bahwa saya benar-benar sudah tidak bisa bergeming dari dalam mobilnya, ia meraih dengan geram ‘safety belt’ (sabuk pengaman) yang saya kenakan, melepaskannya dengan kasar, kemudian mendorong tubuh saya sekuat tenaga keluar dari dalam taksi tersebut.

Karena tangan kanan dan kedua kaki saya sudah lumpuh, saya tidak dapat menahan diri saya jatuh tersungkur dengan kepala menghantam ke tanah di tepi jalan terlebih dahulu.

Mujur sekali, tanah tersebut berumput-lalang yang amat tebal dan panjang!

Ketika supir taksi itu melihat bahwa kaki kiri saya masih tersangkut pada safety belt mobil, ia melepaskannya dari kaitan sabuk pengaman itu dengan geram sekali, menjentikkannya keluar, lalu membanting pintu taksinya keras-keras!

Tanpa memperlihatkan rasa iba sedikit pun juga, ia menekan pedal gas mobil sekuat-kuatnya, sehingga mengakibatkan kedua ban belakang taksinya terputar cepat di atas aspal jalan. Kendaraan tersebut melaju maju dengan kencang sekali, menimbulkan kegaduhan suara hiruk-pikuk yang memecahkan keheningan malam yang syahdu itu. 

Dengan kejam sekali ia sudah meninggalkan saya membujur tertelungkup seorang diri di tepi jalan, lumpuh dan tak berdaya di depan hotel Tamarin Bay.

(Nantikan dan ikutilah perkembangan kesaksian bersambung ini

SEKILAS DARI KEABADIAN (10)
Kesaksian Ian McCormack 

PERTOLONGAN ‘SEORANG’ MALAIKAT

No comments: